Imbas Kenaikan Tarif Kargo Udara, 4 Anggota Asperindo Gulung Tikar

Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) menyatakan bahwa dampak dari turunnya pasar yang disebabkan kenaikan tarif ongkos kirim sebagai imbas dari melonjaknya tarif Surat Muatan Udara (SMU) atau kargo udara telah menyebabkan sebanyak empat perusahaan gulung tikar.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 18 Februari 2019  |  14:40 WIB
Imbas Kenaikan Tarif Kargo Udara, 4 Anggota Asperindo Gulung Tikar
Petugas beraktivitas di Terminal Kargo dan Pos Bandara Jenderal Ahmad Yani yang berada di lokasi baru seusai diresmikan, di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (23/1/2019). - ANTARA/Aji Styawan

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) menyatakan bahwa dampak dari turunnya pasar yang disebabkan kenaikan tarif ongkos kirim sebagai imbas dari melonjaknya tarif Surat Muatan Udara (SMU) atau kargo udara telah menyebabkan sebanyak empat perusahaan gulung tikar.

Hal tersebut, kata Wakil Ketua Asperindo Budi Paryanta, terjadi hanya dalam tempo satu bulan pascakenaikan ongkos kirim yang diberlakukan Asperindo kepada pelanggannya sekitar 15%-25% dari sebelumnya, sebagai konsekuensi atas melejitnya tarif kargo udara.

"Jadi selain shipment dari pelanggan kami yang turun drastis hingga 40%. Empat anggota kami bahkan sudah ada yang gulung tikar karena tidak mau bertahan," ujarnya kepada Bisnis, Senin (18/2/2019).

Budi menerangkan bahwa sebanyak empat perusahaan anggota Asperindo yang telah gulung tikar tersebut tersebar di sejumlah daerah, yakni dua perusahaan di Riau, satu di Palembang, dan satu di Jakarta. 

"Ini yang terdeteksi kami, yang gulung tikar sudah lapor ada empat, yakni di Riau dua, Palembang satu, Jakarta satu. Mudah-mudahan tidak ada laporan lagi meksipun sebenarnya jumlahnya bisa saja lebih dari itu karena bisa jadi ada yang malu untuk lapor," ujarnya.

Pihaknya pun mengaku khawatir akan ada perubahan lain lagi yang bakal gulung tikar apabila persoalan ini dibiarkan begitu saja. Padahal, kenaikan ongkos kirim, sebagai imbas melejitnya tarif kargo udara, baru berlangsung sebulan.

Diketahui bahwa sebagai respon atas melejitnya tarif kargo udara, Asperindo akhirnya terpaksa merespon hal tersebut dengan menaikkan ongkos kirim yang dibebankan kepada pelanggan mereka sebesar 15-25%.

Asperindo mengaku sudah berusaha bertahan semaksimal mungkin untuk survive dengan tidak menaikkan ongkos kirim selama hampir 6 bulan terakhir pascakenaikan tarif kargo udara pertama kali pada Juni tahun lalu.

Namun demikian, lanjutnya, para pelaku usaha akhirnya mau tidak mau, mulai pertengahan Januari 2019 menaikkan ongkos kirimnya dan dibebankan kepada pelanggan hingga menimbulkan dampak berkurangnya shipment dari pelanggan mereka hingga 40%.

"Kan imbas kenaikan tarif SMU, kami terpaksa menaikkan ongkos kirim juga. Nah, karena ongkos kirim naik, pengguna jasa juga merasakan berat. Nah akhirnya mereka mengurangi produksi juga karena kenaikan ongkos kirim yang tinggi kan mereka akhirnya tidak bisa kirim banyak," terangnya.

Budi mengatakan bahwa kenaikan tarif SMU telah berlangsung mulai Juni 2018, dan terjadi berkali-kali. Dicontohkan untuk maskapai Garuda Indonesia, telah mulai naik dari Juni sekali, Oktober dua kali, November sekali, Desember sekali, dan Januari 2019 dua kali.

"Kami baru mulai menaikkan ongkos kirim pada pertengahan Januari 2019. Jadi pada pleno 14 Januari 2019, semua anggota sepakat menaikkan tarif dikisaran 15-25% yang berlaku efektif per 15 Januari 2019," ujarnya.

Oleh sebab itu, pihaknya sangat berharap akan adanya solusi dukungan dari pemerintah atas melonjak tarif SMU tersebut. 

Pasalnya, Asperindo juga merasa bahwa pihaknya merupakan bagian dari kontributor perekonomian di Tanah Air. 

"Karena kami bukan hanya sekedar mengakut barang dari end to end, tapi turut memperlancar arus bisnis juga. Contohnya kan kalau mulai banyak pelaku UKM yang tidak bisa jualan produknya lantaran mahalnya ongkos kirim kan berpengaruh juga akhirnya ke ekonomi," terangnya.

Sebelumnya diketahui bahwa, pada awal bulan lalu tersebar kabar tentang adanya wacana untuk melakukan boikot penggunaan kargo udara oleh Asperindo lantaran adanya kenaikan tarif kargo udara dari maskapai penerbangan yang dinilai sangat memberatkan pelaku usaha jasa logistik tersebut. 

Asperindo mengeluhkan tarif kargo yang naik sampai 6 kali sejak Juli 2018 dan bahkan untuk sejumlah rute penerbangan tertentu kenaikannya mencapai kisaran 300%. 

Pihaknya bahkan sampai ingin bertemu Presiden untuk mengadvokasikan keberatan tersebut. Namun demikian, usai ada pertemuan tertutup yang difasilitasi Kemenhub pada 8 Februari 2019, tersebut keduanya sepakat untuk "berdamai" atas kekisruhan tersebut. 

"Pemerintah memfasilitasi supaya ini jangan sampai ada kegaduhan, dan kita sudah sepakat, tidak ada masalah," ujar Sekjen Asperindo, Amir Syarifuddin belum lama ini.

Ketika itu, usai pertemuan, VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan menuturkan latar belakang kenaikan tarif kargo tersebut. Katanya, harga sebelumnya dinilai terlalu rendah, dan sudah tidak bisa menutupi biaya yang ada. 

Menurutnya, antara lain adanya kenaikan harga BBM jenis avtur Januari-Desember 2018 sebesar 39% dan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) secara tahunan mendekati 13%. 

Sementara itu, pembayaran sewa pesawat dan pemeliharan termasuk suku cadang menggunakan dolas AS. Selain itu, maskapai dihadapkan pada kenaikan biaya kebandarudaraan dan navigasi antara 10%--13%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kargo udara

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top