Fasilitas Baru Industri Kakao Hadir di Batang

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meresmikan fasilitas Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu (PPKIPKT) di Batang, Jawa Tengah, Senin (11/2) guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kakao.
Wibi Pangestu Pratama | 11 Februari 2019 21:14 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meresmikan Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu (PPKIPKT) di Batang, Jawa Tengah pada Senin (11/02/2019) - Bisnis/Wibi Pangestu Pratama

Bisnis.com, BATANG – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meresmikan fasilitas Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu (PPKIPKT) di Batang, Jawa Tengah, Senin (11/2) guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kakao.

Acara peresmian dihadiri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto; Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir; Bupati Batang Wihaji; dan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono.

Fasilitas yang dibangun sejak 2017 itu merupakan hasil kerja sama Kemenperin dengan Pemerintah Kabupaten Batang dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Airlangga menjelaskan PPKIPKT merupakan satu-satunya pabrik pengolahan kakao yang terintegrasi dengan kebun kakao dan pusat pengembangan SDM. Fasilitas tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM di bidang kakao untuk menggenjot kinerja industrinya.

"Indonesia adalah penghasil kakao ketiga terbesar di dunia, tidak boleh puas sebagai supplier tapi harus membuat produk akhir. Untuk itu SDM perlu didorong kualitasnya," ujar Airlangga di Batang, Senin (11/02).

PPKIPKT memiliki fasilitas kelas dan laboratorium pengolahan cokelat skala mini sebagai sarana masyarakat mempelajari olahan kakao. Airlangga menjelaskan UGM akan menjadi penanggung jawab pengembangan SDM di fasilitas tersebut.

Rektor UGM Panut Mulyono mengatakan fasilitas yang terintegrasi diharapkan dapat memicu perkembangan ekonomi masyarakat sekitar. Dia menjelaskan fasilitas tersebut dapat menyerap tenaga kerja masyarakat Batang.

Menurutnya, UGM telah membina petani kakao di Batang sejak 1983 melalui konsep perkebunan inti rakyat (PIR). Melalui PPKIPKT, katanya, UGM akan mendorong sektor hulu kakao melalui penguatan kemitraan dengan petani dan PT Pagilaran.

PPKIPKT berlokasi di Desa Wonokerso, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Fasilitas seluas 9.000 meter persegi tersebut dilengkapi mesin dan peralatan pengolahan kakao berkapasitas 6.000 ton dengan nilai investasi Rp89,9 miliar.

Fasilitas tersebut akan dihibahkan kepada UGM untuk pengembangan SDM. Adapun, penelitian dan pendidikan bidang kakao akan dioperasikan PT Pagilaran sebagai unit usaha milik UGM.

Tag : kakao, cokelat
Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top