Pengusaha Prediksikan Kunjungan Wisman 2019 Bisa Tumbuh 12%

Jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia diproyeksikan bertumbuh sekitar 10%—12% sepanjang tahun ini, dari realisasi tahun lalu sebanyak 15,81 juta kunjungan.
Yanita Petriella | 10 Februari 2019 16:20 WIB
Delegasi peserta Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 menonton atraksi budaya di salah satu destinasi wisata di Gianyar, Bali, Sabtu (13/10). - Bisnis/Ema Sukarelawanto

Bisnis.com, JAKARTA — Jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia diproyeksikan bertumbuh sekitar 10%—12% sepanjang tahun ini, dari realisasi tahun lalu sebanyak 15,81 juta kunjungan.

Proyeksi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan perkiraan pertumbuhan pergerakan turis internasional di dunia.

United Nations World Tourism Organization (UNWTO memprediksi, pertumbuhan pergerakan turis internasional sepanjang tahun lalu mencapai 1,4 miliar atau tumbuh 6% dari 2017. Tahun ini, pergerakan turis internasional ditaksir tumbuh antara 3%—4%.

Pesmisme pada proyeksi UNWTO tersebut didasari oleh kondisi ketidakpastian Brexit, perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, dan proyeksi perlambatan perdagangan internasional yang membuat wisatawan internasional wait and see untuk berpelesir.

Adapun, UNWTO memproyeksikan kunjungan turis internasional ke wilayah Asia Pasifik pada tahun ini tumbuh 5%—6%. Tahun lalu, turis internasional yang berplesir ke kawasan tersebut tumbuh 6% menjadi 343 juta kunjungan.

Untuk Indonesia sendiri, ekonom Indef Bhima Yudhistira mengestimasikan pertumbuhan kunjungan wisman pada 2019 mengalami perlambatan yakni hanya 11,5% hingga 12% dibandingkan dengan pertumbuhan kunjungan wisman pada 2018 sebesar 12,58%.

“Potensi pariwisata di Indonesia cukup besar. Namun, tahun ini memang tumbuhnya tak terlalu besar,” ujarnya kepada Bisnis.com.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia melambat pada tahun ini. Faktor-faktor tersebut a.l. bencana alam, pemilu serentak, volatilitas kurs,  dan kondisi pelemahan ekonomi global.

Selain itu—Jepang yang menjadi salah satu negara penyumbang wisman terbesar bagi Indonesia—tengah mengalami resesi ekonomi. Kunjungan wisman asal Jepang  turun sebesar 7,52% sepanjang 2018. Adapun, kunjungan wisman asal China hanya mengalami kenaikan 2,1% karena perekonomian di Negeri Panda juga tengah melambat.

Bhima mengatakan, salah satu strategi untuk mengantisipasi penurunan kunjungan wisman dari negara utama adalah melalui diversifikasi pasar wisman ke Afrika dan Rusia. “Meskipun [kontribusinya terhadap total kunjungan wisman] kecil, pertumbuhan wisman asal Afrika Selatan naik 10% dan Rusia naik 6.95% pada tahun lalu,” ucapnya.

Dia melanjutkan, diversifikasi juga dapat dilakukan dengan melakukan promosi secara masif ke negara potensial dan bekerja sama dengan agen perjalanan di negara sasaran.

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari juga memprediksi, kunjungan wisman ke Indonesia sepanjang tahun ini hanya tumbuh maksimal 12% dari tahun lalu.

“Untuk promosi, menurut saya, sudah cukup dilakukan. Saat ini, yang menjadi upaya pemerintah [seharusnya adalah] bagaimana agar turis yang datang ke Indonesia ini tak jenuh sehingga pengembangan destinasi perlu dilakukan.”

Sementara itu, Policy Analyst dari Indonesia Services Dialogue Muhammad Syarif Hidayatullah pun berpendapat, kunjungan wisman pada tahun ini tak akan sepesat tahun lalu.

“[Pada] 2019, seharusnya kunjungan wisman bisa mencapai 16 juta hingga 16,5 juta kunjungan. Ini tentu dengan beberapa prasyarat perbaikan,” ujarnya.

KALAH SAING

Menurut Syarif, pariwisata Indonesia masih kalah saing dibandingkan dengan negara-negara kawasan Asean.

“Berdasarkan survei World Economic Forum, Indonesia kalah dari Thailand dari sisi kebersihan dan kesehatan, sumber daya manusia, teknologi, dan infrastruktur transportasinya; seperti bandara.”

Untuk sumber daya manusia, lanjutnya, perlu adanya pemerataan kualitas SDM pariwisata, standardisasi kualitas dan sertifikasi tenaga kerja profesional.

Terlebih, sejumlah kawasan wisata di wilayah timur Indonesia kesulitan mendapatkan SDM yang mumpuni. Hal ini disebabkan masih minimnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maupun Balai Latihan Kerja (BLK) berbasiskan pariwisata.

Plt. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah mengatakan,  kunjungan wisman pada tahun ini memang akan terkendala karena adanya pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) pada April.

“Kami harapkan pertumbuhan [kunjungan wisman] bagus meski tahun politik. Kami berharap situasi aman sehingga pertumbuhan bisa baik juga,” tuturnya.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menambahkan, potensi pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia masih sangat besar. Tahun ini, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan wisman ke Tanah Air akan lebih dari 10%.

Menurutnya, agar kunjungan wisman tahun ini dapat tumbuh lebih dari 10%, pemerintah harus mendorong program penjualan yakni dengan memberikan paket promo.

“Pola yang lalu enggak bisa dilakukan lagi. Harus gencar program penjualan dan mengurangi branding,” kata Hariyadi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, Indonesia menempati urutan ke-9 sebagai negara dengan pertumbuhan industri pariwisata tercepat di dunia versi World Tourism dan Travel Council.

“Kami optimistis sektor pariwisata bisa menjadi core economy dari perolehan devisa, yang ditargetkan US$20 miliar dari kunjungan 20 juta wisman tahun ini,” ucapnya.

Untuk mencapai target itu, ujar Arief, Kemenpar membidik pariwisata perbatasan. Pada tahun lalu, border tourism menyumbang 18% dari total kunjungan wisman. Tahun ini, targetnya dinaikkan menjadi 20% dari target total 20 juta kunjungan wisman.

Tag : kunjungan wisman
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top