Partisipasi Pengusaha Kurang, Ekspor ke Rusia Sulit Terdongkrak

Kadin mengeluhkan kurang kuatnya upaya pelaku usaha dalam mendongkrak nilai perdagangan dengan Rusia. Hal ini menyebabkan target nilai perdagangan US$5 miliar sulit tercapai.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 06 Februari 2019  |  19:44 WIB
Partisipasi Pengusaha Kurang, Ekspor ke Rusia Sulit Terdongkrak
Bendera Federasi Rusia di Kedutaan Besar Rusia di Washington, Amerika Serikat. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Kadin mengeluhkan kurang kuatnya upaya pelaku usaha dalam mendongkrak nilai perdagangan dengan Rusia. Hal ini menyebabkan target nilai perdagangan US$5 miliar sulit tercapai.

Ketua Komite Rusia Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Indonesia Didit A. Ratam menyebutkan target peningkatan nilai hingga US$5 miliar sudah diagungkan sejak 3 tahun lalu. 

Namun, upaya peningkatan perdagangan, baik dari pelaku usaha Indonesia maupun Rusia tidak pernah maksimal, sehingga pertumbuhannya juga sangat lambat.

Berdasarkan data Kemendag, nilai perdagangan Indonesia--Rusia pada 2015, 2016, 2017, dan 2018 (Januari--November) masing-masing mencapai, US$1,98 miliar, US$2,11 miliar, US$2,52 miliar, dan US$2,32 miliar. Meski mengalami tren peningkatan tetapi angka tersebut belum menyentuh pencapaian 2013 yang mencapai US$3,52 miliar.

"Ya upaya pelaku usaha kita masih kurang, begitu pula pelaku usaha Rusia. Padahal tidak ada permasalahan yang besar antar keduanya. Hanya karena kita tidak kenal, maka tak sayang. Jadinya, nilai perdagangan di situ-situ saja," ujarnya, Rabu (6/2/2019).

Didit menjelaskan, Indonesia memiliki banyak potensi untuk meningkatkan ekspor ke Rusia. Adapun, produk-produk tersebut antara lain kopi, makanan olahan, dan barang elektronik.

Namun, peningkatan ekspor tentunya membutuhkan upaya lebih kuat, yang pelaku usaha Indonesia selama ini belum menunjukkan semangat tersebut dan hanya bergantung pada pameran dagang.

"Kalau cuma sekedar memanfaatkan pameran, iya tidak akan pernah tercapai. Butuh survei pasar, butuh investasi, butuh juga pemasaran, dan ini jarang dilakukan pelaku usaha kita," ucapnya.

Menurutnya, peningkatan ekspor ke Negeri Beruang Putih ini tergolong tidak terlalu sulit. Pemerintah Indonesia menjalin hubungan kerja sama yang cukup erat, dan Kadin Indonesia memiliki komite Khusus di Rusia yang siap membantu perizinan atau bahkan permasalahan-permasalahan penghambat ekspor.

Di sisi lain, peningkatan impor dari Rusia juga bukan berarti merugikan. Selain impor alutsista (alat utama sistem senjata), Indonesia juga bisa mulai meningkatkan impor gandum yang selama ini datang dari pihak ketiga.

"Jika kita bisa impor gandum langsung dari Rusia artinya ada perbaikan, karena bisa dapat harga yang lebih kompetitif. Selama ini impor gandum kita berasal dari pihak ketiga," ucapnya.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, kebutuhan impor gandum diperkirakan tumbuh 5% dari tahun lalu. Adapun, total impor gandum Indonesia pada tahun lalu mencapai 10,09 juta ton, turun dari 11,43 juta ton pada 2017.

International Group Country Head Mayora Hartono Gunawan mengatakan perusahaan cukup berbangga dapat melakukan penetrasi di pasar Rusia.

Akan tetapi, dia tidak menampik keberhasilan penetrasi pasar Rusia tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan perusahaan. Perusahaan menggandeng distributor dan mengeluarkan biaya pemasaran yang tidak sedikit.

Perusahaan juga tak henti-hentinya melakukan penelitian dan pengembangan produk, tidak sekadar agar diterima tetapi juga untuk semakin digemari oleh masyarakat Rusia.

"Kami berbisnis dengan Rusia ini sudah sejak 10 tahun yang lalu, tetapi 5 tahun ini kami semakin gencar. Rusia pasar yang penting bagi kami. Pembiayaan kami juga stabil untuk penetrasi di pasar Rusia," katanya.

Adapun, Mayora mencetak rekor ekspor 1.000 unit kontainer pada 2018. Perusahaan menargetkan dapat meningkatkan ekspor hingga 2.000 unit kontainer tahun ini.

Jika ekspor sudah mencapai 5.000 unit, perusahaan berkomitmen untuk berinvestasi dan mendirikan pabrik di Rusia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga mendorong pelaku usaha ekspor untuk dapat meningkatkan upayanya. Menurutnya, neraca perdagangan yang masih defisit harus menjadi motivasi tersendiri bagi pelaku usaha untuk melipat gandakan kinerjanya.

Hanya saja, dia berharap pelaku usaha tidak lagi mengedepankan ekspor komoditas, tetapi produk-produk yang lebih bernilai tambah, karena memiliki multiplier effectyang lebih baik.

"Trade in goods kita memang surplus, tetapi kalau ditambah alutsista nilai perdagangan kita defisit," ujarnya.

Adapun, defisit neraca perdagangan Indonesia terhadap Rusia pada 2018 (Januari--November) mencapai US$467,53 juta, sedangkan periode yang sama tahin sebelumnya hanya US$9,29 juta.

Senada, Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva juga mendorong pelaku usaha Rusia dan Indonesia untuk saling meningkatkan perdagangannya.

Bahkan, dia berharap pelaku usaha Indonesia untuk membuka pabrik dan memanfaatkan Rusia sebagai hub bagi produk andalan Indonesia.

"Kami, pemerintah Rusia, siap mendukung secara penuh pelaku usaha Indonesia untuk berdagang di negeri kami," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rusia

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top