Pelaku UMKM Keluhkan Penghapusan Fasilitas Bagasi Gratis di Maskapai

Pelaku UMKM mulai merasakan penurunan omzet akibat dari penghapusan fasilitas bagasi gratis bagi penumpang pesawat. Mereka berharap pemerintah segera mengkaji ulang demi keberlanjutan usahanya.
M. Richard | 28 Januari 2019 16:02 WIB
Petugas mendata barang pemudik sebelum di masukkan ke bagasi pesawat di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (13/6/2018)./ANTARA FOTO - Umarul Faruq

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelaku UMKM mulai merasakan penurunan omzet akibat dari penghapusan fasilitas bagasi gratis bagi penumpang pesawat. Mereka berharap pemerintah segera mengkaji ulang demi keberlanjutan usahanya.

Ketua Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun menjelaskan, penumpang pesawat didominasi oleh kelas menengah atas, yang setiap kepergiannya selalu membawa barang-barang yang ditujukan sebagai pemberian kepada kerabat dan keluarga.

Namun, dikarenakan fasilitas bagasi gratis hilang, tradisi tersebut perlahan berkurang dan mulai merugikan banyak pelaku UMKM.

"Oleh-oleh tidak lagi menjadi primadona untuk dibeli. Untuk itu,  pemerintah wajib untuk intervensi dan meninjau ulang penerapan kebijakan yang tidak pro-UMKM," katanya, Senin (28/1/2019).

Berdasarkan catatan Bisnis, Lion Air Group menyatakan menghapus kebijakan bagasi cuma-cuma melalui surat bertanggal 3 Januari 2019. Dalam surat itu dinyatakan penghapusan kebijakan bagasi gratis ini efektif diberlakukan pihak Lion Air sejak 8 Januari 2019.

Sementara bagi penumpang yang sudah issued tiket sebelum tanggal 8 Januari masih diberikan 20 kg bagasi cuma-cuma. Calon penumpang yang akan memakai bagasi dapat dilakukan pembelian voucher bagasi melalui travel agent, website Lion Air, atau kantor Group Lion Air. Penghapusan kebijakan free bagasi ini juga dikeluarkan oleh Wings Air. 

Ikhsan mengatakan pihaknya menerima banyak keluhan penurunan penjualan dari pelaku UMKM penjual cendera mata dan penganan tradisional. 

Pelaku-pelaku yang mengeluh berasal dari daerah-daerah tujuan wisata dan Bisnis seperti Bali, Sulawesi Selatan, Lombok, Sumatra Utara, dan Sumatra Selatan.

"Awalnya kami kira harga tiket benar-benar akan turun dengan catatan bagasi berbayar seperti konsep Air Asia. Tetapi rupanya itu hanya akal-akalan maskapai. Saat ini mereka ramai-ramai menaikkan harga tiket dan menerapkan bagasi berbayar, dan pelaku UMKM kena imbasnya."

Berdasarkan pemberitaan Bisnis sebelumnya, Wakil ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah, Bambang Mintosih mengatakan penambahan biaya bagasi yang dilakukan oleh maskapai penerbangan sangat berdampak pada omset penjulan pusat oleh-oleh.

“Harus ada kajian ulang tentang pembebanan bagasi bagi penumpang pesawat, jika terus dilakukan ditakutkan akan berimbas pada sektor UMKM dan pusat oleh-oleh di tempat wisata. jika dilanjutkan orang akan malas berbelanja,” katanya.

Di sisi lain, Ketua kamar dagang dan industri (Kadin) Kota Semarang, Arnaz Agung Andrarasmara mengatakan kenaikan SMU juga berdampak sangat berat bagi pelaku UMKM kota ini lantaran pembelian produknya menjadi sepi.

“Efek dominonya nanti juga akan dirasakan pelaku UMKM, yakni mereka yang memproduksi oleh-oleh ataupun menjual oleh-oleh, karena daya beli wisatawan turun dengan tingginya biaya bagasi atau kargo,” katanya.

Adapun, kenaikan tarif kargo udara, yang dalam bisnis logistik diistilahkan dengan Tarif SMU (Surat Muat Udara), memang sangat mencengangkan. Di Medan, misalnya, Tarif SMU melonjak dari Rp5.000 per kg menjadi Rp18.000 per kg atau naik lebih dari tiga kali lipat.

Sementara itu di Semarang, untuk pengiriman Semarang—Makassar tarif SMU naik dari Rp9.000 per kg menjadi Rp24.000 per kg atau hampir tiga kali lipat.

Tag : lion air
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top