Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Defisit Neraca Perdagangan: Wapres JK Sebut Pemerintah Serius Soal Energi

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pemerintah ingin menekan defisit neraca perdagangan di tengah kondisi perekonomian dunia yang diliputi ketidakpastian ke depan.
Aktivitas pengeboran migas
Aktivitas pengeboran migas

Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pemerintah ingin menekan defisit neraca perdagangan di tengah kondisi perekonomian dunia yang diliputi ketidakpastian ke depan.

Hal itu dikatakan Wapres Kalla saat memberikan sambutan di acara diskusi yang digelar Universitas Paramadina dengan tema besar ‘Indonesia and World: Future Trajectory, Oportunity and Challenges.’

Dia menjelaskan saat ini ada dua hal besar yang menyebabkan neraca perdagangan Indonesia defisit. Yaitu impor di sektor minyak dan gas yang terlalu besar dan nilai ekspor yang lebih kecil dari impor.

“Banyak publikasi neraca perdagangan kita defisit cukup besar. Ada dua hal yang menyebabkan ekonomi defisit. Impor migas yang terlalu besar kemudian juga ekspor kita naik tapi tidak sebesar impor kita,” ujarnya, Kamis (17/1/2018).

Oleh karena itu Wapres Kalla menekankan pemerintah dengan sungguh-sungguh ingin meningkatkan kapasitas dalam bidang energi.

Pemerintah, menurutnya berkomitmen terus meningkatkan nilai tambah terkait dengan produksi barang dalam negeri.

“Artinya adalah kita harus lebih meningkatkan kapasitas kita dalam bidang energi. Dan mengurangi kapasitas kita untuk mengimpor hal-hal tersebut. Inilah tentu yang menjadi bagian yang harus kita lakukan memperbaiki neraca perdagangan agar tidak terjadi defisit. Menghadapi masalah yang kita hadapi ialah bagaimana meningkatkan nilai tambah dari pada negeri ini,” ucapnya.

Wapres Kalla pun menyadari, di tengah upaya tersebut Indonesia dihadapkan pada kondisi ekonomi dunia ke depan yang serba tidak pasti. Faktor utama yang dia soroti adalah karena perang dagang antara dua negara adikuasa China dan Amerika Serikat.

Dia tidak memungkiri jika perang dagang itu bisa sangat berpengaruh negatif terhadap ekonomi Indonesia. Kendati demikian, Wapres Kalla mengajak pelaku ekonomi lebih memandang sisi positifnya dengan memanfaatkan peluang yang ada.

“Yang penting ialah apa yang dapat kita lakulan dan yang harus kita lakukan. Kita semua menyadari perang dagang antara China dengan AS apa efeknya kepada kita. Tentu ada efek negatifnya yaitu pasar menjadi kecil. Tapi di lain pihak ada keuntungan besar juga. Kita berusaha sebanyak-banyaknya untuk membuka kesempatan perdagangan,” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah selama ini telah memperbaiki perjanjian dagang dengan berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia serta Uni Eropa. 

“Kita juga berunding dengan beberapa negara lain untuk membuka perekonomian kita. Karena hanya dengan pasar yang terbuka maka Indonesia bisa lebih baik,” imbuhnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper