Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Manufaktur Kakao Bakal Terus Tumbuh ke Depan, Ini Penyebabnya

Industri kokao olahan dinilai berpotensi terus tumbuh seiring konsumsi cocoa powder di Indonesia yang meningkat. Penguatan itu pun didukung oleh tercapainya target utilisasi industri.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 12 Desember 2018  |  17:52 WIB
Manufaktur Kakao Bakal Terus Tumbuh ke Depan, Ini Penyebabnya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Industri kokoa olahan dinilai berpotensi terus tumbuh seiring konsumsi cocoa powder di Indonesia yang meningkat. Penguatan itu pun didukung oleh tercapainya target utilisasi industri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, konsumsi cocoa powder di Indonesia meningkat 35% secara tahunan (y-o-y). Konsumsi pada periode Januari-September 2018 mencapai 78.190  ton, sedangkan periode yang sama tahun lalu konsumsinya mencapai 57.800 ton.

Peningkatan konsumsi tersebut disertai peningkatan produksi biji kokoa dan proses cocoa grinding, keduanya sama-sama meningkat 16%. Hingga September 2018, produksi biji kokoa mencapai 221.530  ton, meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 191.300 ton.

Adapun cocoa grinding hingga September 2018 mencapai 388.340 ton, sedangkan pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 335.570 ton.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Sindra Wijaya menjelaskan industri olahan kakao berpotensi terus tumbuh seiring meningkatnya konsumsi domestik dan tercapainya target utilisasi yang dicanangkan AIKI.

AIKI menargetkan utilisasi industri olahan kakao pada akhir tahun ini sebesar 62,5%. Adapun tahun lalu utilisasi industri tersebut sebesar 58%.

Peningkatan utilisasi tersebut, menurutnya, merupakan langkah AIKI dalam mendorong pengembangan industri 4.0 dan penguatan industri kakao dalam negeri. Peningkatan utilisasi tersebut menurutnya disertai peningkatan otomatisasi industri.

"Sebagian besar industri kakao sudah menggunakan automatic machineries, karena hampir semua mesin pengolahan biji kakao diimpor dari negara-negara [di] Eropa seperti Jerman, Belanda, dan Swiss," ujar Sindra kepada Bisnis, Rabu (12/12/2018).

Untuk terus menguatkan industri olahan kakao, Sindra meminta pemerintah untuk menggenjot pasokan biji kakao lokal. Salah satu langkah yang menurutnya efektif adalah program Gerakan Nasional (Gernas) Kakao yang meningkatkan produktivitas petani kakao.

Ketersediaan biji kakao lokal menurutnya dapat mengisi kapasitas terpasang industri dalam negeri sebanyak 800.000 ton, yang saat ini baru diisi kakao lokal sebanyak 260.000 ton.

Dia menjelaskan program Gernas pun sejalan dengan target pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai produsen biji kakao terbesar di dunia yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada akhir 2014 di Mamuju.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao
Editor : Maftuh Ihsan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top