Industri Pengolahan Nonmigas Tumbuh Melambat pada Kuartal III/2018

Industri pengolahan non migas mencatatkan pertumbuhan berdasarkan lapangan usaha sebesar 5,01% secara tahunan pada kuartal III/2018. Kendati masih tumbuh positif, angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,46% y-o-y.
Annisa Sulistyo Rini | 05 November 2018 22:03 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Industri pengolahan nonmigas mencatatkan pertumbuhan berdasarkan lapangan usaha sebesar 5,01% secara tahunan pada kuartal III/2018. Kendati masih tumbuh positif, angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,46% y-o-y.

Dari sisi kontribusi sektor industri pengolahan terhadap produk domestik juga terdapat penurunan dari 19,93% pada kuartal III tahun lalu menjadi 19,66% pada kuartal III/2018, walaupun masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,17%.

Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), mengatakan kontribusi sektor industri pengolahan berubah seiring dengan pergerakan nilai tambah atau value added. Apabila nilai tambah industri pengolahan turun, akan berdampak pula pada share kontribusi terhadap PDB.

Beberapa subsektor industri yang mencatatkan pertumbuhan tinggi antara lain industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 10,17%, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sebesar 8,83%, dan makanan dan minuman sebesar 8,10%.

Industri tekstil dan pakaian jadi dan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh baik karena didukung oleh peningkatan produksi domestik dan luar negeri. Sementara itu, industri makanan dan minuman tumbuh didukung oleh peningkatan produksi crude palm oil (CPO) serta produk mamin olahan.

“Industri nasional kan pernah tumbuh jauh lebih tinggi, kemudian ada perlambatan. Tetapi, kunci pentingnya adalah dari angka pertumbuhan industri non migas sebesar 5,01%, ada sektor yang tumbuh tinggi dan harus dipertahankan,” ujarnya di Jakarta, Senin (5/11/2018).

Suhariyanto menambahkan untuk sektor mamin, misalnya, permintaan domestik produk ini sangat besar, apalagi produknya sangat bervariasi. Apabila sektor ini bisa dipacu, dia meyakini industri mamin bisa tumbuh hingga dua digit yang pada akhirnya bakal menyerap tenaga kerja lebih banyak dan meningkatkan nilai tambah.

“Kalau nilai tambah naik, share [terhadap PDB] akan lebih tinggi lagi,” jelasnya.

Dia juga menuturkan pemerintah beserta pelaku industri harus mampu meningkatkan penyerapan produk dalam negeri melalui tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Substitusi bahan baku dan bahan penolong impor tak luput dari tugas yang harus dilakukan oleh pemerintah bersama industri dalam negeri karena subsektor yang mencatatkan pertumbuhan negatif disebabkan oleh ketergantungan impor.

Tag : industri pengolahan
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top