RATING MOODY'S, Risiko Kredit Naik, Inalum Diminta Hati-Hati Kelola Aliran Kas

Moody's Investors Service memberikan peringkat penerbit Baa2 ke PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (PT Inalum) dan peringkat Baa2 untuk perusahaan yang diusulkan tanpa catatan jaminan.
Anitana Widya Puspa | 28 Oktober 2018 18:47 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan (dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin, didampingi CEO Freeport McMoran Richard Adkerson di sela-sela penandatanganan Sales and Purchase Agreement di Jakarta, Kamis (27/9/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Moody's Investors Service memberikan peringkat penerbit Baa2 ke PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (PT Inalum) dan peringkat Baa2 untuk perusahaan yang diusulkan tanpa catatan jaminan.

Ini adalah pertama kalinya Moody memberikan peringkat pada Inalum. Hasil dari penerbitan notes akan digunakan untuk membiayai sebagian dari pembayaran Inalum senilai $ 3,85 miliar guna meningkatkan kepemilikan saham PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi 51,23%, termasuk pemerintah Indonesia 10% saham Papua, dari 9,36%.

Brian Grieser, Wakil Presiden Moody mengatakan peringkat penerbit untuk Inalum itu mencerminkan diversifikasi portofolio penambangannya di batu bara, emas, nikel, timah, tembaga dan aluminium, serta biaya yang rendah dan operasi yang kompetitif secara global.

Menurutnya, Inalum akan mendapat manfaat dari skala operasi PTFI, yang menambang tambang tembaga terbesar kedua di dunia dan tambang emas terbesar di Grasberg. Namun, risiko kredit akan meningkat karena peningkatan keuangan yang cukup besar juga leverage dan proyek perluasan modal yang kompleks di PTFI.

"Moody mengharapkan akuisisi saham yang didanai oleh utang; meningkatkan leverage performa Inalum ke sekitar4,0x dari 1,0x pada 30 Juni 2018," katanya melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis Minggu (28/10/2018).

Moody's mengharapkan agar Inalum mengelola aliran kas secara hati-hati, sehingga ada kecukupan likuiditas.

Prospek peringkat Inalum stabil, mencerminkan prospek stabil untuk peringkat sovereign Indonesia juga sebagai harapan Moody bahwa Inalum akan mengelola profil likuiditasnya sehingga dapat melayani pembayaran bunga serta kontribusi uang tunai kepada PTFI.

Peningkatan peringkat tidak mungkin selama 12-18 bulan ke depan, mengingat utang Inalum yang cukup besar dan rencana belanja modal, dan tingkat peringkat pemerintah.

Dalam jangka waktu yang lebih lama, Moody's dapat mempertimbangkan untuk menaikkan BCA Inalum jika menghasilkan arus kas bebas di perusahaannya anak perusahaan operasi yang melebihi ekspektasi Moody, yang mengarah ke dividen lebih tinggi yang dibayarkan kepada Inalum, pengurangan utang material, dan cakupan bunga yang solid serta jika perusahaan menunjukkan peningkatan berkelanjutan dalam profil kreditnya dan mempertahankan disiplin keuangan karena mengejar pertumbuhan.

Namun, peningkatan pada BCA atau peningkatan ke peringkat pemerintah tidak akan secara otomatis menghasilkanpeningkatan peringkat Inalum.

Peringkat Inalum dapat mengalami tekanan ke bawah jika: 1) Moody's menurunkan peringkat sovereign Indonesia, Gangguanoperasi operasi Inalum, yang menyebabkan volume produksi dan penghasilan lebih rendah daripada yang Moody's perkirakan: 3) Fundamental industri memburuk, menyebabkan penurunan pendapatan dan dividen tunai diterima dari anak perusahaan operasinya; atau 4) Inalum mulai membayar dividen sebelum deleverages perusahaan material atau terlibat dalam akuisisi yang didanai utang besar.

Indikator khusus yang akan dipertimbangkan oleh Moody dalam menurunkan peringkat Inalum termasuk arus kas dividen diterima dari anak perusahaan yang beroperasi hingga bunga jatuh di bawah ini di bawah 1x.

Inalum memiliki dan mengelola saham Pemerintah Indonesia 65% di PT Aneka Tambang Tbk (Antam),PT Bukit Asam Tbk dan PT Timah Tbk, serta saat ini 9,36% kepemilikan di PTFI. PTFI mengontrol hak untuk menambang distrik mineral Grasberg.

Sejalan dengan mandatnya untuk mengendalikan cadangan mineral domestik, Inalum mengakuisisi saham di PTFI, yang menguasai lebih dari 70% cadangan tembaga Indonesia, untuk membawa kepemilikannya menjadi 51,23%.

Pada tanggal 28 September 2018, Inalum mengadakan berbagai perjanjian dengan Freeport-McMoRan Inc (Ba2 stable) danperusahaan di bawah Rio Tinto plc (A3 stabil) untuk mengakuisisi saham di PTFI. Biaya perolehan $ 3,85 miliartermasuk sekitar $ 800 juta yang Inalum akan pinjamkan kepada pemerintah daerah Papua untuk mendanai investasi di PTFI.

Tag : freeport indonesia
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top