Ekspor Semen pada September 2018 Turun Secara Bulanan, Ini Penyebabnya

Ekspor semen dan clinker pada September 2018 tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 15 Oktober 2018  |  22:43 WIB
Ekspor Semen pada September 2018 Turun Secara Bulanan, Ini Penyebabnya
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat semen di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Senin (4/9). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Ekspor semen dan clinker pada September 2018 tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), pada bulan kesembilan ekspor sebesar 479.756 ton, sedangkan pada Agustus 2018 sebesar 541.143 ton. Ekspor semen masih mengalami pertumbuhan, sementara clinker mengalami penurunan.

Menanggapi hal tersebut, Agung Wiharto, Corporate Secretary Semen Indonesia, mengatakan ekspor merupakan pasar sekunder bagi perseroan. Saat permintaan domestik meningkat, maka pabrikan akan mengutamakan pasar dalam negeri terlebih dahulu.

Sejalan dengan kondisi industri, ekspor Semen Indonesia pada September 2018 sebesar 258.305 ton, lebih rendah dibandingkan Agustus 2018 yang sebesar 359.827 ton. Grup Semen Indonesia berkontribusi sebesar 53,84% dari total ekspor semen dan clinker nasional pada periode yang sama.

“Di Semen Indonesia, penjualan ekspor terbagi menjadi dua, separuh kontrak dan separuhnya lagi spot. Kalau ekspor turun, berarti yang spot-nya berkurang karena permintaan dalam negeri meningkat,” katanya Senin (15/10/2018).

Jika merujuk data ASI, konsumsi semen domestik mengalami perbaikan pada September 2018, yaitu tumbuh 7,4% dibandingkan September tahun lalu mencapai 6,77 juta ton. Angka pertumbuhan ini lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya naik 0,6%.

Dia menjelaskan dua sistem penjualan ekspor tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk sistem kontrak, apabila permintaan dalam negeri melemah, maka penjualan akan aman karena sudah disepakati penjualan selama satu tahun. Kekurangan sistem ini adalah apabila permintaan dalam negeri menguat, ekspor tidak bisa dikurangi.

Untuk sistem penjualan spot lebih fleksibel, tetapi ketika permintaan dalam negeri melemah, perusahaan harus berjuang mencari pasar yang mau menerima.

Walaupun ekspor pada September 2018 menurun, Agung menyatakan kondisi ini tidak menjadi masalah bagi perseroan. “Bukan masalah sama sekali karena nanti pada Desember, serapan dalam negeri kurang karena ada libur, baru pasar spot akan naik,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
semen

Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top