Jumlah Industri Pengolahan Hasil Hutan Ramah Lingkungan Meningkat

Forest Stewardship Council (FSC) Indonesia mencatat jumlah industri bersertifikasi ramah dalam pengolahan hasil hutan terus meningkat. Sertifikasi tersebut menunjukkan pertanggungjawaban industri serta agar hasil hutan dapat diterima di pasar mancanegara.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 15 Oktober 2018  |  22:39 WIB
Jumlah Industri Pengolahan Hasil Hutan Ramah Lingkungan Meningkat
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kiri) menyapa warga yang hadir dalam Festival Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tingkat Nasional dan Pameran Usaha Kehutanan yang berlangsung di Hutan Pinus, Mangunan, Dlingo, Bantul, Jumat (28/09/2018). - JIBI/Desi Suryanto

Bisnis.com, BEKASI – Forest Stewardship Council (FSC) Indonesia mencatat jumlah industri bersertifikasi ramah dalam pengolahan hasil hutan terus meningkat. Sertifikasi tersebut menunjukkan pertanggungjawaban industri serta agar hasil hutan dapat diterima di pasar mancanegara.

FSC sebagai lembaga non profit pengembang standardisasi pengolahan hasil hutan mencatat jumlah industri berstandar FSC terus meningkat tiap tahun. Sejak FSC Indonesia terbentuk pada 2013, jumlah industri berstandar hampir mencapai dua kali lipat sejak tahun pertamanya, baik industri dalam sertifikasi forest management (FM) maupun sertifikasi chain of custody (COC).

FSC mencatat, pada 2013 jumlah hutan yang dikelola industri berstandar FM sekitar 1,6 juta hektar. Jumlah tersebut terus meningkat hingga kini berjumlah 3,2 juta hektar. Sertifikasi FM sendiri menunjukkan bahwa industri tersebut melakukan proses pengambilan hasil hutan dan pengolahan yang minim dampaknya terhadap lingkungan.

Jumlah industri berstandar COC pada 2013 hanya 175, sementara kini jumlahnya telah mencapai 278. Sertifikasi COC disebut juga sertifikasi lacak balak menunjukkan hasil hutan diangkut ke pabrik dan diproduksi hingga selesai dengan dampak yang minim untuk lingkungan.

Meningkatnya tren sertifikasi tersebut dinilai Indra Setia Dewi, Marketing & Communication Manager FSC Indonesia, sebagai bentuk kesadaran industri akan citra yang baik di mata masyarakat. Industri bersertifikasi dapat menunjukkan pertanggungjawabannya dalam proses produksi yang menekan dampak pada lingkungan.

"Bisnis saat ini ingin mempunyai imej yang positif. Jadi harus benar-benar harus dibuktikan dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari hutan yang berkelanjutan. Sehingga tren bisnisnya menuju ke sustainable," tutur Indra kepada Bisnis setelah kunjungan media ke pabrik Faber Castell di Bekasi pada Senin (15/10).

Indra pun menambahkan bahwa sertifikasi tersebut dapat menjadi peluang untuk produk hasil hutan diekspor ke mancanegara. Negara-negara di Eropa dan Asia, tutur Indra, menginginkan produk yang terstandar oleh lembaga standar kredibel.

Dalam catatan World Bank (2015) luas hutan Indonesia mencapai 91 juta hektar, dengan 63,4% hutan produksi. Jumlah tersebut dinilai FSC sebagai potensi besar untuk diolah dengan pengolahan yang berdampak sangat minim bagi lingkungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri kehutanan

Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top