Rupiah Melemah, UKM Makanan & Minuman Kerek Harga Jual

Industri makanan dan minuman skala usaha kecil dan menengah (UKM) lebih cepat merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibandingkan dengan industri skala besar.
Annisa Sulistyo Rini | 04 Oktober 2018 21:59 WIB
Pekerja mengemas produk minuman kopi serbuk di pabrik produk hilir PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, Banaran, Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/7). - ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA—Industri makanan dan minuman skala usaha kecil dan menengah (UKM) lebih cepat merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibandingkan dengan industri skala besar.

Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan perusahaan besar cenderung masih mampu menahan kenaikan harga karena memiliki strategi jangka panjang. Rata-rata perusahaan besar menahan kenaikan harga dengan harapan agar penjualan tidak turun hingga akhir tahun, walaupun margin keuntungan tergerus.

“Kalau yang UKM, sudah banyak menaikkan harga, terutama skala kecil rumah tangga atau pelaku usaha yang tidak punya merek. Pilihannya mereka menyesuaikan ukuran atau menaikkan harga,” ujarnya di Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Adhi menjelaskan pelaku industri UKM di sektor mamin terpengaruh oleh harga tepung terigu karena menjadi bahan yang banyak digunakan. Saat ini, harga tepung terigu sudah naik sebesar 10%.

Pelaku UKM juga cenderung mengejar penjualan dan harus untung, sehingga lebih cepat merespon kenaikan harga bahan baku akibat pelemahan rupiah. Kenaikan harga tepung terigu ini juga imbas dari pelemahan nilai tukar, pasalnya bahan baku tepung terigu, yaitu gandum, masih 100% diimpor, terutama dari Australia.

Kendati kondisi industri mamin nasional terdampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Adhi menyatakan Gapmmi tidak mengubah target pertumbuhan sepanjang tahun ini. Proyeksi pertumbuhan industri mamin selama 2018 sekitar 8%--9%.

Sepanjang tahun lalu, industri mamin tumbuh 9,23% secara tahunan. "Diharapkan masih bisa tercapai, meskipun laba diperkirakan menjadi tantangan tersendiri," jelasnya.

Kementerian Perindustrian mencatat pada kuartal III/2018 pertumbuhan industri mamin mencapai 8,67% atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,27%. Sektor ini berkontribusi tertinggi terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan non migas hingga 35,87%.

Sebelumnya, Ratna Sari Loppies, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), mengatakan harga tepung terigu hanya dipengaruhi oleh nilai tuar dan harga gandum internasional. Faktor lain, seperti kenaikan upah minimum dan tarif energi tidak bakal mempengaruhi harga tepung terigu.

"Saat ini faktor itu sudah terjadi, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan harga gandum. Produsen sudah menaikkan harga," ujarnya.

Harga gandum saat ini dalam kondisi naik karena faktor kekeringan di beberapa negara bagian Australia. Selain itu, negara pengekspor gandum yang lain, seperti Rusia, mengeluarkan kebijakan untuk mengenakan bea keluar untuk menjaga pasokan dalam negeri karena musim kemarau.

Segmen UKM menjadi penyerap tepung terigu utama dengan kontribusi sebesar 66%, sisanya diserap oleh industri besar. UKM yang menggunakan tepung terigu ini merupakan perusahaan yang menggunakan sistem manajemen tradisional dan dimiliki oleh keluarga, serta berorientasi komunitas.

Beberapa jenis UKM yang banyak menyerap tepung terigu antara lain bergerak di bidang roti, biskuit, kue modern dan tradisional, mi basah, dan lainnya.

Tag : industri mamin
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top