Sebaran Panen Jagung Diklaim Jamin Pasokan

Kementerian Pertanian meyakini sebaran panen jagung tahun ini mampu mengamankan pasokan nasional.
Juli Etha Ramaida Manalu | 27 September 2018 21:12 WIB
Buruh tani memindahkan jagung ke dalam bak truk usai dipetik di area pertanian Desa Paron, Kediri, Jawa Timur, Senin (6/8/2018). - ANTARA/Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Pertanian meyakini sebaran panen jagung tahun ini mampu mengamankan pasokan nasional.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Sumarjo Gatot Irianto mengatakan bahwa secara umum produksi jagung nasional saat ini sangat baik.

Dia menyebutkan bahwa pada Januari-Maret terjadi panen di wilayah Indonesia Barat yang mencakup 37% dari produksi nasional. Adapun, di wilayah Indonesia Timur, panen cenderung dimulai pada April-Mei.

Berdasarkan hitungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung tahun ini diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering.

Hal ini didasarkan pada data luas panen per tahun yang dimiliki dengan rata-rata peningkatan 11,06%, dan peningkatan produktivitas rata-rata sebesar 1,42%. Di sisi lain, perkiraan kebutuhan jagung tahun ini mencapai 15, 5 juta ton pipilan kering.

kebutuhan tersebut terdiri atas 7,76 juta ton pakan ternak sebesar , 2,52 juta ton kebutuhan peternak mandiri , 120.000 ton kebutuhan benih, dan 4,76 ton untuk kebutuhan industri pangan.

“Artinya kita masih surplus sebesar 12,98 juta ton, dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton,” katanya melalui keterangan pers, Kamis (27/9).

Sentra produksi jagung tersebar yang di 10 Provinsi yakni, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatra Utara, NTB,  Jawa Barat, hingga Sumatra Barat total produksinya sudah mencapai 24,24 juta ton.

Gatot  tak menampik bahwa pada pada musim-musim tertentu harga jagung bisa meningkat tetapi menurutnya bukan berarti produksi dan pasokan jagung bermasalah.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti konsumen jagung yang relatif berfokus pada lokasi tertentu saja seperti Medan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Surabaya, Suawesi Selatan, dan merata sepanjang tahun.

Terkait harga jagung untuk pakan ternak, Gatot menjelaskan bahwa bahwa kebutuhan jagung untuk pabrik pakan saat ini sebesar 50% dari total kebutuhan nasional sehingga sensitif terhadap gejolak.

Kendalanya yang terjadi adalah karena beberapa pabrik pakan tidak berada di sentra produksi jagung, sehingga perlu dijembatani antara sentra produksi dengan pengguna agar logistiknya murah.

“Saat ini tercatat ada 93 pabrik pakan di Indonesia. Beberapa pabrik pakan di daerah seperti, Banten, DKI Jakarta, Kalbar [Kalimantan Barat] dan Kalsel [Kalimantan Selatan], tidak berada di sentra produksi jagung,” kata Gatot.

Tahun ini pemerintahpun bertekad memenuhi kebutuhan jagung sepenuhnya dari produksi dalam negeri tanpa impor jagung sama sekali.

Untuk mencapai target tersebut, Kementan mengalokasikan bantuan benih jagung seluas 2,8 juta hektare yang tersebar di 33 Provinsi sesuai dengan potensi lahan, lokasi pabrik pakan, dan ekspor. Dampak dari kebijakan ini sudah dirasakan dengan adanya peningkatan produksi.

Selain bantuan benih, Kementan juga menganggarkan pembangunan pengering jagung (dryer) sebanyak 1.000 unit untuk petani karena sebagian besar petani jagung tidak memiliki alat pengering yang berakibat pada rendahnya kualitas jagung yang dipanen pada musim hujan.

Tag : jagung
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top