Setelah Kasus Grup Columbia, Aprindo Minta Pengusaha Kredit Ritel Diawasi Ketat

Lemahnya monitoring secara berkala diduga biang keladi terjadinya gagal bayar bagi para pelaku usaha kredit ritel.
Yanita Petriella | 27 September 2018 16:10 WIB
Bisnis.com, JAKARTA - Lemahnya monitoring secara berkala diduga biang keladi terjadinya gagal bayar bagi para pelaku usaha kredit ritel.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO) Roy N. Mandey mengatakan Grup Columbia bukan perusahaan pemain ritel baru namun telah lama berkembang sejak tahun 1980-an. 
Perusahaan ini pun terkenal di kalangan masyarakat menengah bawah karena memberikan pinjaman dengan mudah dan murah dalam pembelian produk rumah tangga dan elektronik milik mereka.
"Kami tidak tahu seperti apa detailnya dan kami tidak mencampuri urusan dapur masing-masing ritel. Kami ketahui mereka nengeluarkan kredit untuk konsumen yang disurvei oleh pihak Columbia. Tentu, dana yang dikreditkan itu diperoleh baik dari kantor sendiri, bank maupun pembiayaan lainnya," ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (27/9/2018).
Pihaknya mengimbau agar kasus Grup Columbia ini dapat dijadikan pelajaran bersama baik bagi perbankan, lembaga pembiayaan, maupun usaha kredit ritel sejenisnya agar berhati-hati dalam memberikan pinjaman.
Perbankan dalam memberikan kredit investasi maupun modal kerja perlu melakukan monitoring secara berkala setiap minggunya kepada debitur agar terhindar dari gagal bayar. 
Selain itu, bagi usaha kredit ritel juga perlu melalukan monitoring pemberian kredit kepada konsumen secara berkala dan syarat penilaian penyaluran kreditnya pun diperketat. 
Selama ini banyak yang terlena supaya produk cepat terjual kepada konsumen.
"Proses monitoring yang tidak berkala dari dua belah ini menyebabkan kemacetan kredit. Dari waktu ke waktu pinjaman meningkat sehingga menyebabkan penumpukan utang. Itu asumsi saya. Bank ada kriteria pemberian kredit ke pelaku usaha yang berbeda dengan ketika uang itu dipakai untuk dipinjamkan kembali ke konsumen," tutur Roy.
Seperti diketahui, Grup Columbia yang bergerak di segmen pembiayaan perabot rumah tangga dan retail yang didirikan  oleh Leo Chandra.
Columbia menjadi solusi bagi kalangan menengah bawah untuk pemenuhan kebutuhan non primer, seperti produk-produk elektronik dan perabot rumah tangga dengan skema pembayaran cicilan.
Saat ini, Columbia memiliki jaringan sekitar 358 outlet dan 27 mobile outlet yang tersebar di Indonesia.
Didirikan sejak 1982, grup ini memiliki anak usaha yaitu PT Cipta Pratama Mandiri, PT Citra Prima Mandiri, PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) serta Citra Panji Mandiri (CPM).  
PT Cipta Pratama Mandiri dan PT Citra Prima Mandiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang retail,  sedangkan SNP Finance dan juga PT Citra Panji Mandiri merupakan perusahaan pembiayaan.
Tag : ritel
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top