Tunas Inti Abadi Rehabilitasi Lahan Kritis, Ekonomi Warga Sekitar Terdorong

Kewajiban PT Tunas Inti Abadi, cucu usaha PT ABM Investama Tbk, merehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) di Taman Hutan Raya Sultan Adam mendorong peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
Denis Riantiza Meilanova | 25 September 2018 17:56 WIB
Alat berat dioperasikan untuk membongkar muatan batu bara dari kapal tongkang, di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, BANJARMASIN — Kewajiban PT Tunas Inti Abadi, cucu usaha PT ABM Investama Tbk. merehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) di Taman Hutan Raya Sultan Adam mendorong peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

Blok kerja rehab DAS yang terletak di desa Tiwingan Lama ini awalnya merupakan lahan kritis yang gundul akibat kebakaran maupun pembukaan lahan. Namun dalam 3 tahun ini, lahan tersebut mulai banyak ditumbuhi tanaman produktif.

Sejak 2015 hingga 2018 ini, tercatat sebanyak 1,47 juta pohon telah tertanam. Mulai dari pohon durian yang mencapai 450.000, karet sebanyak 16.000, jengkol 300.000, kemiri 50.000. Kemudian mahoni, cempedak, dan langsat.

Dalam 5 tahun mendatang, warga desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio, Kalimantan Selatan dapat menikmati melimpahnya hasil hutan bukan kayu (HHPK) tersebut.

"Ini tahun tanam 2015-2016, total seluas 1.307 hektar di Tiwingan ini. Penanaman sudah semua tinggal masuk tahap perawatan," ujar Hari Sutikno, Kepala Teknik Tambang Tunas Inti Abadi, di Tiwingan Lama, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (25/9/2018).

Dalam kegiatan rehabilitasi ini, Tunas Inti Abadi turut melibatkan masyarakat sekitar. Hari berujar perusahaan akan melakukan pendampingan selama 3 tahun dan diharapkan setelahnya masyarakat dapat mengelola secara mandiri.

Selain itu, pihaknya juga tengah mencanangkan agar lokasi rehabilitasi ini dalam 5 tahun ke depan dapat menjadi salah satu destinasi wisata di Kalimantan Selatan.

"Banyak sekali produk turunan, ini untuk penghasilan musiman. Kalau jadi wisata bisa jadi penghasilan harian," katanya.

Ketua Kelompok Rehabilitasi DAS Tunas Inti Abadi Ahmad Yani berujar hasil rehabilitasi dalam 3 tahun ini terbilang cukup baik dan memberikan harapan baru bagi masyarakat sekitar. Keberhasilan ini karena pola rehabilitasi yang diterapkan merupakan pola tanam rawat. Banyak rehabilitasi tak berhasil karena menggunakan pola tanam tinggal.

"Dulu nggak ada harapan berkat rehab sekarang punya harapan. Untuk 1307 ha ini masyarakat yang terlibat satu desa dengan hak kepemilikan petak 211 orang," katanya.

Di sisi lain, Ahmad menuturkan saat ini kelompoknya tengah mengembangkan bambu betung. Rencananya rebung dari bambu tersebut akan diekspor ke Singapura.

Tunas Inti Abadi merupakan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang didirikan pada 2003 ini memiliki luas konsesi 3.085 Ha terletak di wilayah administrasi Sei Loban, Kusan Hulu dan Angsana, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan atau sekitar 204 km dari Banjarmasin.

TIA bergerak dalam usaha produksi dan penjualan batu bara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertambangan

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top