Impor Terigu Bengkak Dipicu Kebutuhan Pakan Ternak

Tingginya permintaan tepung terigu untuk campuran bahan baku pakan ternak memicu kenaikan impor komoditas tersebut pada tahun ini.
Yustinus Andri DP | 23 September 2018 14:44 WIB
Ilustrasi - Artisanfoodandlaw

Bisnis.com, JAKARTA — Tingginya permintaan tepung terigu untuk campuran bahan baku pakan ternak memicu kenaikan impor komoditas tersebut pada tahun ini.

Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman mengakui adanya peningkatan impor tepung terigu untuk campuran pakan ternak. Peningkatan tersebut datang dari pakan ternak perairan yang membutuhkan tepung terigu khusus sebagai pelengket bahan baku lainnya.

“Sektor ini cukup besar konsumsinya, dan tahun ini diperkirakan produksinya tumbuh dari tahun lalu sebesar 5%-6%. Maka diperkirakan konsumsi tepung terigu khusus pakan ini akan mencapai 100.000 ton pada tahun ini,” ujarnya kepada Bisnis.com, belum lama ini.

Namun demikian, dia menampik kenaikan impor tepung terigu diakibatkan oleh dibatasinya impor jagung untuk pakan ternak. Menurut Sudirman, kenaikan impor tepung terigu untuk pakan ternak perairan disebabkan oleh meningkatnya permintaan pasar dan produksi sektor tersebut.

Dia pun menyebutkan, keputusan mengimpor tersebut disebabkan oleh perbedaan jenis tepung terigu yang diproduksi dalam negeri dengan tepung terigu untuk pakan ternak. Produk dalam negeri dinilainya hanya cocok untuk makanan manusia lantaran memiliki tingkat kelengketan yang rendah. Sementara untuk pakan ternak membutuhkan tingkat kelengketan yang lebih tinggi.

Terpisah, ekonom Indef Rusli Abdullan mengatakan, kenaikan impor tepung terigu tersebut senada dengan kondisi yang terjadi pada produk gandum. Selain digunakan untuk produk industri makanan manusia, produk gandum dan tepung terigu juga diserap oleh sektor pakan ternak.

“Ketika impor jagung dihentikan, produsen pakan ternak tentu mencari substitusinya. Untuk beberapa produk pakan ternak, bahan baku penolong pengganti yang dipiliih adalah gandum atau tepung terigu karena harganya yang reatif murah,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies mengatakan, kondisi tersebut terjadi lantaran adanya kenaikan pemintaan untuk campuran pakan ternak, terutama setelah impor jagung dibatasi. Pasalnya, dia mengklaim impor untuk makanan manusia, justru mengalami penurunan sepanjang tahun ini, dibandingkan dengan tahun lalu.

“Dari sektor makanan untuk manusia, impornya justru turun dan porsinya terhadap total impor tepung terigu tahun ini hanya 2,5%, terkoreksi dari 4% pada 2017. Sementara itu, sisanya untuk pakan,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dimilikinya, Ratna mengatakan bahwa impor tepung terigu untuk makanan manusia pada Januari-Juni 2017 mencapai 792 metrik ton (mt) dengan nilai kontrak US$498.362. Adapun pada tahun lalu impor produk tersebut menembus 6.948 mt dengan nilai kontrak US$2,18 juta.

Penurunan impor tersebut juga terjadi lantaran meningkatnya jumlah pabrik tepung terigu dari 2014 yang hanya 4 perusahaan menjadi 25 pabrik pada 2018. Tren positif itu, juga muncul lantaran diterapkannya dua kebijakan bea masuk anti-dumping (BMAD), yakni pada 2004 terhadap China dan India, serta pada 2005 kepada Uni Emirat Arab.

Selain itu, pemerintah juga telah mengenakan bea masuk tepung terigu dari 5% menjadi 10% yang tercantum dalam buku tarif kepabeanan Indonesia (BKTI) 2017.

Adapun, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor tepung terigu pada Januari-Agustus 2018 mencapai 42.584 ton. Jumlah tersebut naik dari tahun lalu yang mencapai 31.843 ton. Pada tahun ini, negara pengekspor tepung terigu terbesar adalah Ukraina dan Turki yang masing-masing mengirimkan 14.626 ton dan 14.395 ton.

 

Tag : tepung terigu
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top