PT KAI Bidik 4 Jalur Kereta Reaktivasi di Jabar

PT Kereta Api Indonesia (Persero) akan memfokuskan kembali rencana aktivasi jalur kereta di Jawa Barat pada empat titik.
Wisnu Wage Pamungkas | 12 September 2018 15:41 WIB
Ilustrasi jalur kereta. - Wikipedia

Bisnis.com, BANDUNG — PT Kereta Api Indonesia (Persero) akan memfokuskan kembali rencana aktivasi jalur kereta di Jawa Barat pada empat titik.
 
Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan pihaknya sudah membicarakan rencana reaktivasi ini dengan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil. Ada empat jalur yang dibidik untuk dihidupkan kembali yakni di Pangandaran, Garut, Kabupaten Bandung, dan Sumedang.

“Kami rencanakan reaktivasi empat jalur di Rancaekek-Tanjungsari, Garut, Pangandaran, dan Ciwidey,” ujarnya di Gedung Sate, Bandung, Rabu (12/9/2018).

Rencana reaktivasi membutuhkan dukungan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar karena sudah terkatung-katung selama bertahun-tahun. Adapun PT KAI akan fokus pada penertiban lahan dan persiapan operasional.
 
“Dari empat ini, kami evaluasi mana yang paling mungkin dilakukan secepatnya. Dari empat itu jalur mana yang lebih akomodatif membantu masyarakat, hasil bumi,” lanjut Edi.
 
Dari sisi kemudahan penertiban lahan, PT KAI menilai ruas Pangandaran dan Garut paling memungkinkan untuk lebih cepat dieksekusi. Sementara itu, penertiban lahan perseroan yang sudah mengalami alih fungsi seperti jalur Bandung-Ciwidey adalah yang paling sulit. 

Reaktivasi jalur kereta dipandang menguntungkan bagi masyarakat karena ada kemudahan transportasi. Daerah yang dapat dilayani oleh kereta api dinilai bisa tumbuh perekonomiannya karena pergerakan orang dan barang makin mudah.

Proyek reaktivasi ini diharapkan mampu selesai berbarengan dengan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. 

“Saya pikir dua-duanya harus cepat karena dua-duanya dibutuhkan. Kereta cepat juga tak lama lagi akan dibangun,” paparnya.
 
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perhubungan Jabar Dedi Taufik menyatakan reaktivasi jalur ini akan mencakup rute Banjar-Cijulang-Pangandaran-Parigi, Garut-Cikajang, Cikudapateuh Bandung-Banjaran-Ciwidey, dan Rancaekek-Tanjungsari.

“Beberapa ruas jadi prioritas. Bahkan, sosialisasi penertiban untuk jalur Rancaekek-Tanjungsari sudah dilakukan oleh kami,” ungkapnya.
 
Program ini disebut bergantung pada anggaran di Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Jika para pihak terkait serius menggarap proyek ini, Dedi optimistis pada 2019 anggaran bisa disiapkan oleh pemerintah pusat.

“Sekarang tinggal pelaksanaan ada di Kemenhub dan PT KAI,” ucapnya.

Pihaknya menilai jalur Banjar-Cijulang-Pangandaran-Parigi adalah yang paling mungkin dikerjakan secara cepat karena tidak terlalu berat dari sisi lahan. Pasalnya, tidak banyak lahan yang diduduki warga.

Adapun rute yang melewati Ciwidey dinilai akan berat lantaran sudah banyak perumahan dan pemukiman warga.

Dedi menambahkan Ridwan Kamil bakal mencari solusi merelokasi warga yang menempati lahan PT KAI agar tidak ada keberatan di lapangan. Salah satu opsinya adalah mendirikan rumah susun serta konstruksi rel kereta secara melayang (elevated).
 
Pemprov Jabar disebut telah mengusulkan kepada Kemenhub agar nantinya jumlah stasiun pemberhentian di jalur reaktivasi disesuaikan dengan kondisi wilayah. Misalnya, jika jalur tersebut melewati titik wisata, maka dimungkinkan untuk dibuat stasiun tambahan.

Tag : kereta api, jabar
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top