Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Laporan ADB: Pertumbuhan Asia-Pasifik Tidak Terganggu Tensi Dagang

Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang Asia-Pasifik diperkirakan masih solid pada 2018-2019 kendati tensi perdagangan antara AS dan sejumlah mitra dagangnya terus merebak.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 19 Juli 2018  |  15:16 WIB
Laporan ADB: Pertumbuhan Asia-Pasifik Tidak Terganggu Tensi Dagang
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang Asia-Pasifik diperkirakan masih solid pada 2018-2019 kendati tensi perdagangan antara AS dan sejumlah mitra dagangnya terus merebak.

Asian Development Bank (ADB), dalam laporan terbarunya Asian Development Outlook 2018 (ADO) Supplement Juli 2018, memperkirakan pertumbuhan di kawasan Asia-Pasifik akan mencapai 6% pada 2018 dan 5,9% pada 2019 ditopang oleh menguatnya permintaan domestik.

Perkiraan tersebut tidak berubah dari proyeksi ADO 2018 yang diterbitkan pada April 2018. Jika mengecualikan negara-negara industri baru yang berpendapatan tinggi, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Pasifik juga masih akan tumbuh ke level 6,5% pada 2018 dan 6,4% pada 2019.

Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada menjelaskan implementasi proteksionisme dagang AS sejauh ini belum memengaruhi aliran perdagangan dari dan ke negara berkembang Asia.

“Kebijakan makroekonomi dan fiskal akan membantu perekonomian di seluruh kawasan Asia-Pasifik untuk menghadapi kejutan eksternal dan memastikan pertumbuhan tetap kuat,” katanya melalui pernyataan resmi, Kamis (19/7/2018).

Namun, laporan ADO Supplement tersebut tetap mengingatkan bahwa meningkatnya proteksionisme dagang AS akan membawa risiko negatif untuk outlook perekonomian negara berkembang Asia.

“Risiko dari pengukuran proteksionisme dagang dapat merusak keyakinan konsumen dan bisnis, serta mengganggu prospek pertumbuhan negara berkembang Asia ,” tulis ADB di dalam laporannya.

Untuk pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara, ADB juga tetap dengan perkiraan sebelumnya di level 5,2% untuk tahun ini dan tahun depan kendati pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk Indonesia direvisi turun sedangkan PDB Thailand direvisi naik.

ADB memperkirakan pertumbuhan Indonesia hanya naik menjadi 5,2% pada tahun ini, atau turun dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 5,3%. Pasalnya, nilai impor barang modal telah melampaui nilai ekspor Indonesia pada kuartal I/2018 dan ekspor diperkirakan terus tumbuh moderat.

“Menguatnya permintaan domestik, khususnya untuk konsumsi dan investasi swasta, akan terus mendukung perekonomian kawasan Asia Tenggara,” tulis ADB.

Sementara itu, pertumbuhan di Asia Selatan tetap menjadi yang terkuat di kawasan Asia-Pasifik, dengan kenaikan diproyeksi mencapai 7% pada 2018 dan 7,2% pada 2019. Pertumbuhan ekonomi di India pun diperkirakan bakal sesuai dengan perkiraan pertumbuhan ADB pada April 2018, yaitu sebesar 7,3% pada tahun ini dan 7,6% pada tahun depan.

Pertumbuhan di Asia Timur juga diperkirakan sesuai dengan perkiraan pada April 2018, yakni di level 6, % pada 2018 sebelum bergerak moderat ke level 5,8% pada 2019. Pergerakan ini dipicu oleh perlambatan di China akibat kebijakan deleveraging dari Pemerintah Negeri Panda.

Sementara itu, laporan ADO Supplement merevisi turun tingkat inflasi untuk negara berkembang Asia menjadi 2,8% pada 2018 dan 2,7% pada 2019, dari sebelumnya masing-masing 2,9% dan 2,8%. Penyebabnya adalah tekanan inflasi berhasil ditahan faktor domestik. 

Selain itu, sejumlah bank sentral di kawasan Asia juga telah melakukan intervensi untuk menjaga nilai tukarnya terhadap penguatan dolar AS yang dipicu pengetatan moneter di Negeri Paman Sam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi adb
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top