Waspada NTP Bisa Kembali Tertekan

Setelah meningkat selama dua bulan berturut-turut, Nilai Tukar Petani (NTP) terancam kembali turun seiring dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi akibat kenaikan harga bahan bakar dan pelemahan rupiah.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 04 Juli 2018  |  16:11 WIB
Waspada NTP Bisa Kembali Tertekan
Petani menyiapkan bibit padi di persawahan Desa Tanjung, Pademawu, Pamekasan, Madura, Kamis (27/4). - Antara/Saiful Bahri

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah meningkat selama dua bulan berturut-turut, Nilai Tukar Petani (NTP) terancam kembali turun seiring dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi akibat kenaikan harga bahan bakar dan pelemahan rupiah.

Ekonom Indef Rusli Abdullah mengungkapkan kedua faktor ini diperkirakan akan memicu pergerakan inflasi yang lebih tinggi sehingga mempengaruhi harga yang dibayar petani untuk keperluan produksi dan konsumsinya.

"Kemungkinan Juli ketika inflasi tinggi karena ada kondisi nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi, ditambah dengan musim panen [Agustus dan September] mungkin NTP akan turun," ungkap Rusli kepada Bisnis, Selasa (4/7/2018).

Dia berharap pemerintah akan tetap berupaya keras untuk menjaga laju inflasi ke depannya demi menjaga stabilitas harga yang dibayar petani. Selain itu, resi gudang harus diaktifkan ketika pasokan berlebih saat panen raya. Ketika pasokan berlebih, pemerintah juga harus tetap membeli produksi pertanian sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Perbaikan Nilai Tukar Petani kembali berlanjut pada Juni 2018 di tengah laju inflasi perdesaan yang meningkat

Berdasarkan hasil pantauan harga-harga di perdesaan di 33 Propinsi, Nilai Tukar Petani (NTP) per Juni 2018 mengalami kenaikan sebesar 0,05% menjadi 102,04, dibandingkan NTP bulan sebelumnya sebesar 101,99.

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima pertani terhadap indeks harga yang dibayar petani.

NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi petani.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menuturkan kenaikan NTP disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani lebih tinggi karena indeks harga yang dibayar petani

"Ini indikator positif karena NTP menunjukkan daya beli petani," ujar Suhariyanto, Senin (2/7/2018).

Dalam catatan BPS, indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,36% lebih besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,3%. Berdasarkan per subsektornya, Suhariyanto menuturkan perkembangan NTP cukup mengembirakan. NTP tanaman pangan, holtikultura, perikanan dan peternakan seluruhnya mengalami kenaikan, kecuali NTP tanaman perkebunan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nilai tukar petani

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top