Asiamet Tambah Kepemilikan di Proyek Beutong

Asiamet Resources Limited meningkatkan kepemilikan tidak langsungnya atas PT Emas Murni Mineral (EMM) yang menggarap proyek Beutong di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, dari 40% menjadi 80%.
Lucky Leonard | 28 Juni 2018 20:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Asiamet Resources Limited meningkatkan kepemilikan tidak langsungnya atas PT Emas Murni Mineral (EMM) yang menggarap proyek Beutong di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, dari 40% menjadi 80%.

Perusahaan asal Australia tersebut menyatakan nilai transaksi untuk meningkatkan kepemilikan tersebut sebesar A$4,375 juta. Adapun sisa 20% saham EMM dimiliki oleh PT Media Mining Resource (MMR).

CEO Asiamet Peter Bird mengatakan peningkatan kepemilikan tersebut bakal berdampak positif pada perusahaan di tengah kondisi pasar tembaga yang cenderung bergerak ke arah defisit. Menurutnya, hal tersebut memberi peluang bagi pihaknya untuk melakukan pengembangan secara besar-besaran.

"Perusahaan berusaha terus melaporkan kemajuan di proyek Beutong di tengah eksplorasi serta pengembangan lebih lanjut dan meningkatkan momentum di paruh kedua 2018," tuturnya mengutip keterangan resmi, Kamis (28/6).

Dia menjelaskan sumber daya JORC di Beutong mencapai 2,4 juta ton tembaga, 2,1 juta ounce emas, dan 20,6 juta ounce perak. Selain Emas, tembaga, dan perak, terdapat juga cadangan molibdenum berkualitas tinggi.

Dengan peningkatan kepemilikan dari 40% menjadi 80% jatah Asiamet atas cadangan tersebut pun akan meningkat drastis menjadi 1,92 juta ton tembaga, 1,68 juta ounce emas, dan 16,48 juta ounce perak.

Pengembangan cadangan di Beutong masih sangat terbuka ke berbagai arah, termasuk adanya potensi penemuan zona emas dan tembaga yang bermutu tinggi.

Selain di Beutong, Asiamet pun menjadi pemilik satu Kontrak Karya (KK), yakni PT Kalimantan Surya Kencana (KSK) di Kalimantan Tengah.

Presiden Direktur KSK Mansur Geiger mengatakan pihaknya saat ini hanya fokus pada Blok Beruang Kanan Main (BKM) saja. Sementara tiga blok lainnya, yakni Beruang Kanan South (BKS), Beruang Kanan West (BKW), dan BKZ Polymetallic (BKZ) belum bisa digarap.

Apabila seluruh perizinan diperoleh dengan lancar, Mansur menargetkan KSK sudah bisa mulai berproduksi pada 2020. Proyeksi tersebut dengan asumsi konstruksi sudah bisa dilakukan tahun depan.

Adapun berdasarkan hasil penilaian awal, proyek pertambangan tembaga BKM bakal memberi pendapatan hingga US$1,27 miliar dalam delapan tahun dengan keuntungan mencapai US$388 juta.

Dalam delapan tahun, tembaga katoda yang dijual diproyeksikan sebanyak 391 pon dengan perkiraan harga tembaga rata-rata selama umur tambang senilai US$3,25 per pon.

Dengan asumsi harga tersebut, royalti yang bakal dibayarkan ke pemerintah mencapai US$63,5 juta dan pajak senilai US$136,6 juta. Sementara itu, waktu yang dibutuhkan untuk menutup investasi yang telah dikeluarkan melalui arus kas bersih (payback period) hanya selama 2,4 tahun.

Tag : pertambangan
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top