Masih Realistiskah Mencapai Target Ekspor Nonmigas 2018?

Kendati target ekspor nonmigas senilai US$188,7 miliar masih jauh dari realisasi, pemerintah optimistis mampu mengejarnya dengan berharap pada topangan dari penjualan komoditas andalan, seperti minyak sawit mentah dan produk otomotif.
Rayful Mudassir | 27 Juni 2018 14:29 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati target ekspor nonmigas senilai US$188,7 miliar masih jauh dari realisasi, pemerintah optimistis mampu mengejarnya dengan berharap pada topangan dari penjualan komoditas andalan, seperti minyak sawit mentah dan produk otomotif.

 Tahun ini, Kementerian Perdagangan mematok pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 11% dari realisasi tahun senilai US$169,0 miliar. Secara kumulatif, capaian ekspor nonmigas Januari—Mei 2018 baru menyentuh US$68,08 miliar.

 Kepala Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri meyakini target ekspor nonmigas tahun ini masih bisa dicapai, karena kinerja ekspor pada semester II/2018 diperkirakan bakal lebih baik dibandingkan dengan paruh pertama tahun ini.

 Lagipula, lanjutnya, capaian ekspor nonmigas secara kumulatif (Januari—Mei 2018) yang mencapai US$68.08 miliar masih lebih tinggi dibandingkan dengan pembukuan pada periode yang sama tahun lalu senilai US$62,00 miliar.

 “Kami kira banyak yang sudah dan akan terus dilakukan pemerintah untuk mencapai target ekspor [tahun ini],” ujarnya saat dihubungi awal pekan ini.

 Kasan menjelaskan, pemerintah akan memanfaatkan peluang dari kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dan China untuk mengatrol kinerja ekspor nonmigas di sepanjang sisa tahun berjalan.

 Salah caranya adalah melalui pendekatan bilateral dengan kedua mitra dagang tradisional RI itu. Menurutnya, pemerintah terus melakukan lobi dengan mengusung kepentingan nasional agar komoditas andalan RI dapat mengakses pasar kedua negara.

 Dengan China, lanjutnya, pemerintah akan terus mendorong ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan menerobos peluang ekspor produk otomotif pascapenurunan bea masuk produk tersebut ke pasar Negeri Panda.

 Dengan AS, sebut Kasan, pemerintah akan mengupayakan agar fasilitas generalized system of preferences (GSP) untuk Indonesia tidak disetop. GSP adalah insentif bebas tarif bea masuk untuk impor produk-produk tertentu dari negara-negara berkembang, termasuk RI.

 Dia menyebut, pemerintah terus berupaya memasok sepenuhnya produk-produk yang dibutuhkan Negeri Paman Sam dan tidak diproduksi oleh industri dalam negeri mereka. Beberapa komoditas yang akan dipacu ekspornya ke AS a.l. kakao, sepatu, dan pakaian jadi.

 “[Performa ekspor nonmigas ke mitra dagang tradisional] Tidak akan terdampak dengan adanya perang dagang tersebut,” tegasnya.

 Cara lain yang akan ditempuh untuk memaksimalkan peluang ekspor di sisa tahun ini adalah mengamankan pangsa pasar Indonesia di berbagai negara tujuan utama yang masih menerapkan hambatan tarif dan nontarif.

 “Upaya lainnya adalah dengan penetrasi pasar ke negara nontradisional termasuk lewat misi dagang, promosi, dan percepatan penyelesaian kerja sama bilateral dengan berbagai negara yang saat ini sedang ditangani [DPR untuk diratifikasi melalui Perpres], seperti dengan Chile.”

 Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno sepakat bahwa target ekspor masih realistis untuk dicapai. Faktor penunjangnya adalah pemulihan ekonomi di mitra dagang penting seperti AS, China, dan Uni Eropa.

 Membaiknya perekonomian mitra dagang tradisional diharapkan sejalan dengan kenaikan impor komoditas dari Indonesia. “Masih realistis [capai target ekspor], salah satunya karena adanya penyederhanaan perizinan di sistem logistik,” lanjutnya.

 Dari kalangan pengusaha, Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan masih optimistis ekspor CPO dan produk turunannya akan mampu mengatrol pencapaian target ekspor nonmigas tahun ini.

 “Tapi harus ada satu langkah konkret untuk bisa meningkatkan ekspor [CPO] terutama ke negara nontradisional. Pada April, negara seperti Bangladesh dan [kawasan] Timur Tengah mengalami kenaikan [permintaan impor CPO],” tuturnya.

 Bagaimanapun, dia tidak menampik saat ini ekspor CPO sedang mengalami tren penurunan akibat berkurangnya permintaan dari UE, China, dan India. Gapki, kata Fadhil, mengapresiasi langkah Kemendag yang terus melakukan misi dagang termasuk ke Tunisia dan Maroko.

 Menurutnya, pemerintah dapat melakukan kerja sama berbentuk Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Turki untuk mempermudah ekspor CPO ke negara itu.

 Di sisi lain, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan kinerja ekspor otomotif kumulatif tahun ini tumbuh 15% dibandingkan periode yang sama 2017, padahal ekspor otomotif RI ke Vietnam masih tertahan.

 Untuk itu, dia mengharapkan seluruh pengusaha otomotif RI menjalin hubungan kuat dengan principle di negara asal agar seluruh produksi di Indonesia dapat diekspor ke luar negeri. Langkah ini diyakini dapat menambah kuota ekspor khusus untuk kendaraan buatan RI.

 Menurutnya, industri juga harus memperkuat variasi kendaraan. Selama ini produksi jenis SUV dan sedan mengalami penurunan, sedangkan jenis MPV kian tinggi karena permintaan pasar.

 “Kami juga membutuhkan dukungan Kemendag untuk membuka peluang dagang melalui FTA,” ujarnya.

 SULIT TEREALISASI

 Bagaimanapun, sejumlah kalangan menilai target ekspor nonmigas tahun ini akan sulit terealisasi karena adanya penurunan kinerja industri domestik dan penerapan hambatan dagang yang dilakukan beberapa negara terhadap komoditas andalan RI.

 Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kamad Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W. Kamdani berpendapat ekspor Indonesia masih akan sedikit tertekan karena komoditas unggulan seperti minyak sawit dan karet mengalami koreksi harga.  

 Meski begitu total ekspor (migas dan nonmigas) yang mencapai US$75 miliar pada Mei 2018 masih memungkinkan untuk mencapai target ekspor nonmigas sebesar 11%.

 “Dari data impor Mei terlihat bahwa impor bahan baku berkontribusi terhadap hampir tiga perempat total impor. Bila dilihat dari sisi swasta berarti industri bergerak dan terlihat dari sisi kenaikan ekspor,” kata Shinta.

 Shinta mengingatkan pemerintah perlu mewaspadai pertumbuhan konsumsi BBM yang naik cukup besar karena tingginya harga minyak saat ini sehingga menekan neraca perdagangan.

 Oleh karena itu, pemerintah harus segera meningkatkan kapasitas kilang yang ada dan menambah kilang seiring dengan pertumbuhan industri kebutuhan bahan bakar baik untuk pembangkit atau transportasi.

 Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal mengatakan, kontribusi sektor manufakur terhadap produk domestik bruto (PDB) semakin lama semakin menurun, dari 30% pada 2001 menjadi 20% pada 2017.

 Hal tersebut berbanding lurus pada turunnya produksi barang-barang manufaktur andalan ekspor, yang pada akhirnya mempersulit kinerja ekspor nonmigas. “Target ekspor 11% masih sulit tercapai. Kemungkinan [ekspor nonmigas tahun ini] hanya tumbuh 9%,” ujarnya.

 Menurutnya, pemerintah harus melakukan upaya jangka menengah dan panjang untuk menggenjot ekspor nonmigas. Salah satu caranya adalah dengan memperkuat industri domestik yang ditopang infrastruktur yang memadai.  

 Selain itu, pemerintah disarankan melakukan penguatan kerja sama dengan pasar nontradisional seperti Afrika dan Amerika Latin yang perekonomiannya diyakini bakal tumbuh signifikan sehingga berpotensi menjadi penampung komoditas ekspor RI nantinya.

 “Pemerintah harus memberdayakan seluruh perjanjian ekonomi baik melalui FTA maupun IC-CEPA. Saat ini, tingkat utilisasi kerja sama ekonomi ini masih sekitar 30%. Selain itu, pemerintah harus menggenjot kerja sama regional seperti RCEP.”

 Direktur Center of Reform on Economic (CORE) Mohammad Fasial berpendapat, performa ekspor impor tahun ini adalah yang terburuk setidaknya dalam 3 tahun terakhir. Padahal, untuk mencapai target US$188 miliar, butuh pertumbuhan rata-rata 11% per bulan.

 “Jika tren seperti sekarang masih berlanjut sampai di semester kedua, target ekspor tidak akan tercapai. Belum lagi jika memperhitungkan efek Lebaran pada Juni di mana ekspor akan melemah serta impornya karena efek liburan,” katanya.

 Sebaliknya, menurut Faisal,  pada semester II tahun ini harga komoditas ekspor andalan seperti CPO, karet, batu bara cenderung turun sehingga sukar untuk mengharapkan pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi.

 “Perlu ada perubahan pola perubahan fundamental ekspor manufaktur. Di samping mencari terobosan di pasar-pasar nontradisional,” ujarnya.

 Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Mei 2018 mencapai US$16,12 miliar, naik 10,9% dari hanya US$14,54 miliar pada April. Nilai ekspor ini juga lebih tinggi 12,47% dibanding periode sama tahun lalu senilai US$14,33 miliar.

 Sementara itu, peningkatan ekspor terjadi di sejumlah komoditas pertanian termasuk diantaranya mutiara, tembakau, sarang burung, tanaman obat, aromatik dan rempah.

 Pada komoditas pengolahan, peningkatan ekspor paling tinggi dialami produk basi dan baja, timah, pakaian jadi, serta barang kimia. Sementara itu, di sektor tambang, ekspor bijih tembaga, batu bara, dan bijih logam mengalami kenaikan ekspor.

 Adapun, penurunan besar untuk komoditas ekspor dialami oleh perhiasan, lemak dan minyak hewan nabati termasuk CPO yang terpangkas 2,5%, bubur kayu, karet, dan kapal laut juga mengalami penyusutan pengiriman.

 

Tag : ekspor nonmigas
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top