Wisatawan Indonesia Masih Saja Tidak Peka Kebersihan dan Kelestarian Alam

Rendahnya pemahaman wisatawan nusantara mengenai kelestarian alam menyebabkan masih ditemukannya sejumlah wisatawan nusantara yang mengunjungi cagar alam Pulau Sempu, Kabupaten Malang Jawa Timur, yang tidak diperuntukkan bagi kegiatan pariwisata.
Deandra Syarizka | 24 Juni 2018 18:19 WIB
Petugas DLK bersih-bersih di Pantai Tanjung Benoa Rabu (11/4/2018) - Bisnis/ Feri Kristianto

Bisnis.com, JAKARTA — Rendahnya pemahaman wisatawan nusantara mengenai kelestarian alam menyebabkan masih ditemukannya sejumlah wisatawan nusantara yang mengunjungi cagar alam Pulau Sempu, Kabupaten Malang Jawa Timur, yang tidak diperuntukkan bagi kegiatan pariwisata.

Rosek Nursahid, Pendiri Profauna Indonesia, organisasi perlindungan hutan dan satwa liar, menyebut berdasarkan UU No 5 tahun 1990 tetang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, disebutkan bahwa kegiatan wisata tidak diizinkan di kawasan cagar alam. Kegiatan yang diperbolehkan di cagar alam hanyalah kegiatan yang menyangkut penelitian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan.

"Malang selatan memiliki banyak pantai indah yang bisa dikembangkan lebih jauh sebagai tempat tujuan wisata, janganlah pulau Sempu yang berukuran kecil itu yang statusnya berupa cagar alam juga ingin dikembangkan sebagai tempat wisata. Kabupaten Malang tetap butuh kawasan suaka alam seperti cagar alam Pulau Sempu," ujarnya, seperti dikutip, Minggu (24/6/2018).

 Dia menjelaskan, pariwisata yang melibatkan banyak orang  akan berdampak dengan banyaknya sampah plastik dan non organik lainnya yang bisa mengancam kelestarian ekosistem Pulau Sempu. Menurutnya, hal tersebut bukan hanya akan  membuat pulau tampak kotor, tetapi juga mengganggu kehidupan alami satwa liar yang ada di Pulau Sempu.

Selain itu, dia menilai kehadiran manusia akan mengganggu kehidupan ratusan jenis satwa liar yang hidup di Pulau Sempu. Pasalnya, cagar alam khusus diperuntukkan sebagai habitat alami satwa liar sehingga campur tangan manusia sangat dibatasi.

Dia mengungkapkan, pihaknya bersama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan patroli selama libur lebaran untuk menertibkan sejumlah wisatawan yang mengunjungi Pulau Sempu. Menurutnya, keterbatasan petugas BKSDA yang berjaga menjadi salah satu penyebab masih ditemukannya wisatawan nusantara yang melanggar aturan tersebut.

“Banyak wisatawan yang masuk ke Sempu tanpa izin atau tidak lewat KSDA, langsung ke penyedia perahu,” jelasnya.

Di lain sisi, pemerintah menilai pergerakan wisatawan nusantara yang berlangsung selama libur Hari Raya Idul Fitri 1439 H secara umum berjalan lancar.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, pergerakan wisatawan nusantara yang diestimasikan mencapai total 30 juta selama periode Ramadan hingga libur lebaran berjalan lebih lancar dan sesuai dengan skenario yang diprediksi pemerintah. Panjangnya durasi libur lebaran disebut menjadi salah satu faktor pendukung kelancaran pergerakan wisnus selama periode libur tersebut.

 “Total 30 juta wisnus secara umum alhamdulillah berjalan lancar,”ujarnya, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, rata-rata pergerakan wisnus per bulan mencapai 20 juta, namun turun menjadi 10 juta saat bulan puasa. Meski demikian, jumlah tersebut  tertutupi ketika memasuki liburan Lebaran di mana jumlah pemudik diperkirakan mencapai 20 juta. Dengan demikian secara total, pergerakan wisnus mencapai total 30 juta saat periode Ramadhan-Lebaran.

Menurutnya, pemerintah aktif mempromosikan sejumlah destinasi lebaran dalam program pesona mudik, mulai dari Top 10 Pesona Kuliner Lebaran, Top 10 Pesona Destinasi Lebaran, dan Top 10 Pesona Event. Destinasi wisata pilihan etrsebut akan dikurasi berdasarkan rekomendasi Trip Advisor.

Untuk mempromosikan program tersebut, pihaknya menggunakan jasa community endorser, dan selebriti endorser. Tujuannya untuk mengangkat dan memberi rekomendasi kepada para pemudik destinasi apa saja yang ada disekitar kampung halamannya 

Tag : pariwisata
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top