PTPN III Optimistis Target Produksi Karet Dicapai

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III optimistis bisa mencapai target produksi karet tahun ini di tengah terjadinya gangguan berupa gugur daun.
Juli Etha Ramaida Manalu | 29 Mei 2018 17:47 WIB
Karet - ilustrasi

Bisnis.com,  LABUHAN BATU SELATAN — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III optimistis bisa mencapai target produksi karet tahun ini di tengah terjadinya gangguan berupa gugur daun.

SEVP Operasional PTPN III (Persero) Alexander Maha menyebutkan, produksi karet perseroan hingga Mei 2018 mengalami kekurangan  7% dari target akibat gugur daun yang dini.

“Karet kita masih minus 7% karena gugur daunnya awal. Misalnya harusnya kita dapat 500 kilogram [kg] per hektar ini mungkin masih 450 kg,” jelas Alexander kepada Bisnis di sela-sela peresmian Rumah Kreatif BUMN yang dibangun oleh PTPN II, IV, dan V pada Senin (28/5/2018).

Alexander menjelaskan, gugur daun dini ini diakibatkan keadaan cuaca dengan curah hujan yang tinggi.

Kendati demikian, menurutnya, sejak Mei tahun ini, kondisi produksi perkebunan sudah mulai berbalik membaik. Pihaknya berharap, keadaan ini bisa berlanjut hingga akhir tahun sehingga target produksi perseroan bisa tercapai.

“Untuk  Mei ini sudah mulai rebound, mulai meningkat. Diharapkan dalam bulan- bulan selanjutnya, gugur daun itu sudah selesai dan daun sudah menghijau kembali dan mengeras, dan mudah-mudahan ke depan target kita bisa tercapai,” ujarnya.

Adapun target produksi karet yang dipatok perusahaan hingga akhir tahun mencapai 1.500 kg per hektar dengan luas lahan perkebunan perkebunan yang menghasilkan karet milik PTPN III sendiri mencapai 26.000 ha.

Sebelumnya, Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara Edy Irwansyah memprediksi gugur daun tanaman karet yang terjadi sebanyak tiga kali sepanjang empat bulan pertama  2018 akan menyebabkan berkurangnya produksi karet di Sumut hingga 50% sampai Juni 2018.

Edy menjelaskan, gugur daun yang terjadi sepanjang Januari hingga akir Maret 2018 di Sumut merupakan sebuah siklus alami yang biasanya terjadi pada musim kemarau.

“Pada keadaan ini, tanaman secara fisiologi beradaptasi terhadap lingkungan dengan mengugurkan daun untuk mengatasi kebutuhan air,” jelasnya.

Kendati demikian, sejak awal hingga akhir April, gugur daun kedua terjadi yang diduga dipengaruhi anomali cuaca di mana curah hujan yang tinggi merangsang pertumbuhan jamur pada dau muda. Jamur ini kemudian menghambat perkembangan sehingga mengakibatkan gugurnya daun.

Memasuki bulan ke lima tahun ini, curah hujan yang tinggi dan diselingi cuaca yang panas berikut tingkat kelembaban yang tinggi juga kembali merangsang pertumbuhan jamur pada daun muda hingga tua yang pada akhirnya juga menyebabkan gugurnya daun.

Bedasarkan data dari Gapkindo produksi karet Sumut hingga pertengahan tahun lalu mencapai 262.948 ton.

Harga karet

Hingga saat ini harga karet tercatat masih lesu. Pengurangan volume ekspor karet yang disepakati oleh tiga negara dalam perjanjian Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) belum mampu mengerek harga karet ke level yang lebih tinggi.

Kendati demikian, Alexander berharap penguatan harga minyak dunia bisa ikut mengerek harga karet ke depannya.

“Untuk karet memang ini agak drop. Harga tahun lalu kita dapat sekitar Rp25.600 rata rata satu tahun, tahun ini cuma Rp21.000 per kilo. Namun, kita yakin. Harga minyak bumi kan naik, ini [harga karet] bisa ngikut. Dengan Trump mengakhiri perjanjian nuklir dengan Iran, ini rebound minyak bumi dan diharapkan untuk karet juga naik,” jelasnya.

Tag : harga karet
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top