Prasarana Uji KIR di Daerah Kurang, Kecelakaan Hanya Soal Waktu

Wakil ketua Aptrindo, Kyatmaja Lookman, menuturkan sejauh ini masih banyak pengusaha yang tidak rutin memeriksa kondisi angkutan barang atau truk yang dimilikinya.
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 21 Mei 2018 16:23 WIB
Sejumlah warga melihat truk yang mengalami kecelakaan di jalur tengah Tegal-Purwokerto, Desa Jatisawit, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, Minggu (20/5). Truk pengangkut gula yang diduga mengalami rem blong tersebut menabrak enam rumah, satu kios buah, 19 sepeda motor, dua mobil sehingga mengakibatkan 11 orang meninggal dan sejumlah warga luka-luka. - Antara/Zaenal

Bisnis.com, JAKARTA — Prasarana untuk pengujuan kendaraan bermotor dinilai masih belum mencukupi, akibatnya kecelakaan jadi bagaikan menunggu waktu belaka.

Tidak tersedianya prasarana pengujian kendaraan bermotor atau KIR di daerah serta tidak adanya kepedulian pengusaha truk terhadap kendaraannya menjadi pemicu masih banyaknya kecelakaan truk seperti yang terjadi di Brebes belum lama ini.

Wakil ketua Aptrindo, Kyatmaja Lookman, menuturkan sejauh ini masih banyak pengusaha yang tidak rutin memeriksa kondisi angkutan barang atau truk yang dimilikinya.

“Harusnya preventive maintenance perusahaan itu jalan, kebanyakan kita itu tunggu rusak baru dibetulin, salah itu,” kata Kyatmaja kepada Bisnis, Senin (21/5/2018).

Dalam hal ini, Kyatmaja menuturkan selain sikap pengusaha truk yang tidak melakukan preventive maintenance, tidak tersedianya prasarana KIR yang memadai di daerah pun menjadi masalah. Dia mencontohkan situasi yang terjadi di Priok, sekira 70% truk belum mengalami uji KIR.

“Masalahnya 70% kendraan di Priok aja gak KIR, tapi sama operator pelabuhan masih dipersilakan masuk. Daerah tidak punya prasarana KIR yang memadai jadi gimana truk-truk itu bisa layak. Saya yakin banyak [pengusaha truk] yang tidak melakukan preventive maintenance,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengaku sejauh ini langkah yang bisa dilakukan hanya mengimbau anggotanya untuk melakukan pengecekan terhadap armadanya.

Untuk diketahui, pada Minggu (20/5) terjadi kecelakaan truk di Bumiayu Brebes. Satu unit truk gandeng menabrak beberapa bangunan rumah yang berada di pinggir jalan dan diduga menyebabkan 11 orang meninggal dunia.

Dugaan sementara kecelakaan itu terjadi lantaran adanya malfungsi rem pada truk tersebut atau rem blong.

Kyatmaja menuturkan pemerintah harus melakukan penyelidikan secara menyeluruh mengingat selama ini penanganan kecelakaan hanya sebatas formalitas dan tidak pernah serius.

“Langkah tindak lanjut pencegahannya tidak ada, padahal ada 11 orang meninggal. Padahal, tiap 20 menit 1 orang meninggal karena kecelakaan,” tegasnya.

 

Tag : truk
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top