ISU PERANG DAGANG: Kunjungan AS ke China, Ini Komentar Ekonom

Itu langkah untuk negosiasi secara bilateral biar win win solution antara kepentingan ekonomi dua negara. Penasihat ekonomi Trump, Kudlow sudah berikan sinyal bahwa kemungkinan setelah kunjungan ke China tensi perang dagang bisa menurun, kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara kepada Bisnis.com, Kamis (3/5/2018).
Linda Teti Silitonga | 03 Mei 2018 12:52 WIB
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin tiba di China. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA- Delegasi perdagangan Amerika Serikat dilaporkan saat ini telah berada di Beijing, Chinauntuk membahas isu utama terkait pengenaan sejumlah tarif komoditas.

Dikemukakan kesepakatan terobosan peluangnya tipis dihasilkan dalam kunjungan delegasi AS di China selama dua hari tersebut.

Pertemuan terkait kebijakan dagang dari pihak AS, delegasi dipimpin Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, sementara dari China dipimpin Wakil Perdana Menteri China Liu He.

Dalam pertemuan tersebut disebutkan kemungkinan untuk mengurai sejumlah keluhan dari pihak AS tentang praktik perdagangan China.

“Itu langkah untuk negosiasi secara bilateral biar win win solution antara kepentingan ekonomi dua negara. Penasihat ekonomi Trump, Kudlow sudah berikan sinyal bahwa kemungkinan setelah kunjungan ke China tensi perang dagang bisa menurun,” kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara kepada Bisnis.com, Kamis (3/5/2018).

Seperti diketahui, retorika perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang semakin meningkat membuat pelaku pasar mencoba menerka apakah tensi ini akan berujung pada perang dagang atau hanyalah sekadar balas-membalas ancaman yang akan berakhir di meja perundingan.

Pada Minggu (8/4/2018), media di China menyerukan pelaku bisnis internasional termasuk industri dan komersial di AS melawan rencana Presiden AS Donald Trump untuk menambahkan pengenaan tarif sebesar US$100 miliar terhadap barang-barang di China (Bisnis Indonesia, 9 April 2018).

“Kami memanggil seluruh komunitas bisnis internasional, termasuk AS untuk mengambil tindakan cepat dan efektif serta mendesak pemerintah AS untuk memperbaiki kesalahannya,” ungkap media negara di China, People’s Daily, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (8/4/2018).

Media yang diawasi penuh oleh pemerintah China itu juga menyatakan perusahaan dan industri di China akan terus mendorong pemerintah di seluruh negara melawan tarif yang akan diberlakukan oleh Negeri Paman Sam.

Adapun pada Kamis (5/4/2018) waktu AS, Trump memerintahkan adimistrasinya untuk mengenakan tarif tambahan sebesar US$100 miliar terhadap produk impor asal China. Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Gedung Putih, Trump mengatakan pertimbangan tambahan tarif tersebut menyusul adanya pembalasan China yang dirasa tidak adil.

Kepala Perwakilan Perdagangan AS (USTR) Robert Lighthizer pun segera memproses deklarasi tersebut tetapi dia mengungkapkan tidak ada satu pun tarif yang akan memberikan dampak langsung. Pasalnya, tarif tambahan tersebut masih harus melewati tahap konsultasi publik dalam periode 60 hari.

Merespons penambahan tarif tersebut, Beijing menyatakan untuk melindungi kepentingannya dan akan melawan aksi baru AS.

Sebelumnya Negeri Panda telah melakukan retaliasi dengan melempar tarif sebesar 25% untuk sekitar US$50 miliar impor Paman Sam, termasuk kacang kedelai, otomotif, bahan kimia, dan pesawat terbang.

Tarif itu akan segera berlaku ketika tarif yang dikenakan Paman Sam juga mulai diberlakukan. Pembalasan China tersebut merupakan respons dari rilis daftar produk Negeri Panda yang akan dikenakan tarif sebesar US$50 miliar oleh Paman Sam.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top