Pakai Ultra Supercritical, Masyarakat Tak Perlu Khawatirkan Polusi PLTU

Ketua Harian Asosiasi Pembangkit Listrik Swasta Indonesia (APLSI) APLSI mengatakan bahwa Indonesia tidak perlu khawatir dengan polusi dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Menurutnya, PLTU saat ini menggunakan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Denis Riantiza Meilanova | 27 April 2018 07:29 WIB
Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Ali Herman Ibrahim (kanan), memberikan paparan didampingi Ketua Harian Arthur Simatupang, saat berkunjung ke Wisma Bisnis Indonesia, di Jakarta, Kamis (16/3). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Harian Asosiasi Pembangkit Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Arthur Simatupang mengatakan bahwa Indonesia tidak perlu khawatir dengan polusi dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). PLTU saat ini menggunakan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

“Tak perlu khawatir dengan pembangunan PLTU. Saat ini, PLTU sudah menggunakan ultra supercritical yang lebih ramah lingkungan,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/4/2018).

Arthur mengatakan dengan inovasi dan perkembangan teknologi, pembangkit listrik mengalami perubahan drastis dalam 10 tahun terakhir. Teknologi lama subcritical mulai ditinggalkan, dan dunia beralih ke teknologi yang modern.

Teknologi ultra supercritical (USC) memiliki tekanan dan temperatur uap lebih besar 26 Mpa dan 700 Celcius, sehingga efisiensinya mendekati 50%. Di Pulau Jawa, ada beberapa PLTU yang memerlukan USC seperti PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9, PLTTU Jawa 10, PLTU Cirebon 2 dan PLTU Cilacap.

Namun, beberapa pembangkit berbahan bakar batu bara yang menerapkan HELE (High Efficiency Low Emission) mengalami kendala, seperti tahap perizinan lahan, perizinan lingkungan dan pembebasan lahan.

Arthur mengatakan pemerintah jangan lepas tangan terhadap hal ini. PLTU yang ramah lingkungan perlu dukungan, seperti kepastian hukum dan kepastian investasi secara jangka panjang.

“Pemerintah seakan lepas tangan. Harusnya, pembangunan PLTU itu didukung dengan berbagai upaya agar mendapatkan kepastian hukum dan kepastian investasi. Mungkin bisa disosialisasikan bahwa PLTU itu sekarang sudah ramah lingkungan,” katanya.

Indonesia masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga uap. Hal ini dikarenakan harga listriknya yang lebih murah dibandingkan pembangkit lain. Harga jual listrik masih US$4-6 cent per kWh. Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2018-2027, pembangunan pembangkit masih didominasi oleh PLTU.

 

Tag : listrik
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top