Indonesia-Australia Bahas Peningkatan Kerja Sama Maritim

Pemerintah Indonesia menyampaikan sejumlah usulan peningkatan kerja sama maritim dengan Australia, mulai dari perkapalan hingga navigasi. Indonesia juga meminta dukungan Australia dalam pengajuan skema pemisahan alur dan sistem pelaporan kapal di Selat Sunda dan Selat Lombok.
Rivki Maulana | 19 April 2018 11:45 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kanan) menerima Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Australia untuk Indonesia Gary Francis Quinlan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah Indonesia menyampaikan sejumlah usulan peningkatan kerja sama maritim dengan Australia, mulai dari perkapalan hingga navigasi. Indonesia juga meminta dukungan Australia dalam pengajuan skema pemisahan alur dan sistem pelaporan kapal di Selat Sunda dan Selat Lombok.

Penjajakan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan antara Kementerian Perhubungan dengan Ministry of Infrastructure, Regional Development and Cities, Australia dalam ajang Australia Transport Sector Forum di Melbourne, 17-18 April 2018. Selain penjajakan rencana kerja sama, pertemuan itu juga mengevaluasi program kerja sama bilateral yang sudah berjalan.

Direktur Kenavigasian Kemenhub, Sugeng Wibowo mengatakan Indonesia ingin meningkatkan kerja sama dengan Australia terkait keselamatan kapal-kapal perintis yang melayani wilayah Indonesia bagian Timur. Hal ini sejalan dengan rencana peningkatan standard keselemaatan pelayaran kapal nasional.

Indonesia berharap agar Australia berbagi pengalaman dalam menangani Kapal Fiberglass berbahan bakar bensin yang banyak digunakan sebagai kapal penumpang dan kapal wisata. Hal ini berkaitan dengan banyaknya kecelakaan kapal jenis tersebut yang terjadi di Indonesia baru-baru ini.

“Kita mengetahui bahwa Australia memiliki banyak kapal jenis ini, sehingga kita berharap dapat belajar dari Pemerintah Australia dalam menangani kapal tersebut,” kata Sugeng dalam siaran pers, Kamis (19/4/2018).

Sugeng menuturkan Indonesia juga berharap Australia bisa berbagi pengalaman dalam pengoperasian Self-Propelled Oil Barge (SPOB) yang biasa digunakan untuk distribusi bahan bakar atau produk minyak lainnya ke wilayah terpencil. Penggunaan SPOB menjadi kebutuhan karena wilayah geografs Indonesia berupa kepualauan yang banyak lokasi terpencil.

Menurut Sugeng, Indonesia juga menjajaki kerja sama asistensi dengan Australia untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia berupa pelatihan. Komptensi yang perlu digenjot antara lain Maritime English untuk operator radio dan operator VTS, pelatihan tenaga pandu, serta pelatihan untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran lingkungan laut.

Di sisi lain, Indonesia meminta dukungan Australia dalam pengembangan Traffic Separation Scheme (TSS) dan Ship Reporting System (SRS). Indonesia akan mengajukan TSS dan SRS di Selat Sunda dan Selat Lombok pada Sidang Sub Komite Navigation, Communications and Search and Rescue (NCSR) Organisasi Maritim Internasional (IMO) tahun depan. TSS dan SRS diperlukan untuk menghindari kecelakaan di dua selat ramai dilalui kapal tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
maritim

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top