Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penjualan Buku Terhambat Harga Kertas

Pertambahan volume produksi buku baru yang tidak diimbangi dengan peningkatan penjualan buku masih menjadi tantangan industri buku tahun ini. Di sisi lain, mahalnya harga kertas juga masih menjadi alasan sejumlah penerbit menahan produksi buku barunya tahun ini.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 10 April 2018  |  21:11 WIB
Pengunjung melihat buku-buku yang dijual pada pameran buku
Pengunjung melihat buku-buku yang dijual pada pameran buku "The Big Bad Wolf Book Sale" 2016 di JX International, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/10). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA— Pertambahan volume produksi buku baru yang tidak diimbangi dengan peningkatan penjualan buku masih menjadi tantangan industri buku tahun ini. Di sisi lain, mahalnya harga kertas juga masih menjadi alasan sejumlah penerbit menahan produksi buku barunya tahun ini.

Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Rosidayati Rozalina memaparkan, volume produksi buku baru secara umum masih mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini terbukti dari jumlah judul buku baru yang mendapatkan nomor International Standard Book Number (ISBN) dari Perpustakaan Nasional yang mencapai 100.000 judul baru pada tahun lalu, dan diproyeksi meningkat pada tahun ini.

Namun dia menjelaskan, tidak semua buku yang telah mendapatkan nomor ISBN dipastikan terbit. Diperkirakan hanya 40% sampai 45% dari total buku yang mendapatkan nomor ISBN yang akhirnya benar-benar diterbitkan.

Oleh karena itu dia menilai meskipun volume judul buku baru yang terbit meningkat, tetapi jumlah eksemplar buku yang terjual cenderung menurun. Salah satu faktornya adalah mahalnya harga kertas yang beredar saat ini.

“Saya dengar bahkan penerbit besar sampai menunda cetak dan kehilangan potential revenue karena harga kertas yang tinggi, nanti harga jualnya tidak masuk. Dampak [mahalnya harga kertas] sampai ke buku umum, dan kembali ke margin penerbit,” ujarnya kepada Bisnis.

Pihaknya juga mengaku sulit untuk melacak data penjualan buku secara nasional baik yang dipasarkan melalui distributor besar seperti Gramedia maupun toko buku non Gramedia dan jalur independen.

Data Ikapi menunjukkan, pangsa pasar buku dalam negeri mencapai sekitar Rp 14,1 triliun pertahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 60% pasar buku berasal dari pembelian oleh pemerintah untuk sektor pendidikan, sedangkan sisanya merupakan pasar buku umum.Secara umum, rata-rata setiap judul buku hanya dicetak hingga 3.000 eksemplar

Dia menjelaskan, besarnya kontribusi buku pendidikan dalam peta industri buku secara nasional membuat kebijakan pemerintah dalam menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) buku pendidikan memiliki dampak yang signifikan.

Menurutnya, saat ini harga bahan baku kertas masih di atas harga spesifikasi yang ditetapkan dalam HET 2017, yaitu Rp15.000 hingga Rp16.000 per kilogram, dari harga perkiraan yang digunakan Kemdikbud sebesar Rp12.000-Rp13.000 per kilogram.

“Situasi sekarang kita mengikuti saja, mungkin yang bisa dilakukan pemerintah adalah menyesuaikan HET atau spesifikasinya diturunkan,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pameran Buku
Editor : Linda Teti Silitonga
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top