Manfaatkan Kerjasama RI – China dan AS

Perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China diyakini akan memberi keuntungan terhadap industri dalam negeri. Meski demikian, pemerintah belum berencana meningkatkan sejumlah perundingan perdagangan dengan kedua negara tersebut
Rayful Mudassir | 27 Maret 2018 20:05 WIB
Aktivitas kapal pengangkut peti kemas di Pelabuhan Jayapura, Papua, yang dikelola oleh Pelindo IV, Rabu (15/11). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China diyakini akan memberi keuntungan terhadap industri dalam negeri. Meski demikian, pemerintah belum berencana meningkatkan sejumlah perundingan perdagangan dengan kedua negara tersebut.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengatakan selama ini pemerintah telah tergabung dalam Forum Konsultasi Bilateral dengan Amerika Serikat. Sedangkan dengan China, RI sudah terikat menjadi bagian dari Asean – China Free Trade Agreement.

Menurutnya, masih terlalu dini jika diprediksi secara akurat keuntungan yang bakal diraih Indonesia melalui perang dagang ini. Pemerintah memilih untuk memanfaatkan forum dan perjanjian yang ada sembari terus mencari akses pasar baru.

“Terlalu dini untuk memprediksi secara akurat dengan angka-angka. Lebih baik jangan raise expectations nanti sulit mengelolanya karena ini bukan perhitungan matematik atau mekanik,” kata Iman Pambagyo kepada Bisnis, Selasa (27/3/2018).

Selama ini Forum Konsultasi Bilateral yang dijalankan antara RI – AS lebih banyak membicarakan tentang isu-isu perdagangan kekinian dan peluang investasi. Meski begitu sejak empat tahun terakhir mulai kurang efektif. Tahun ini saat pertemuan Trade and Investment Framework Arragement (TIFA) di Indonesia pada April atau Mei nanti, pemerintah akan membuatnya lebih konstruktif.

Forum antara RI dengan AS dinilai menjadi salah satu wadah untuk mengangkat isu-isu yang sedang difokuskan pemerintah atau beberapa kebijakan AS yang mengganggu atau berpotensi mengganggu ekspor RI ke Negeri Paman Sam. “Di sana juga bisa membahas tentang program-program kerjasama peningkatan kepasitas Indonesia,” kata Iman.

Menurutnya, pemerintah lebih baik menjadikan kondisi perang dagang antar kedua negara raksasa tersebut dengan memperkuat pengamanan perdagangan termasuk anti-dumping, dan upaya safeguard.

Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Pradnyawati mengemukakan pihaknya melakukan langkah cepat untuk melakukan perlindungan terhadap produksi dalam negeri dalam menghadapi ancaman membanjirnya impor.

"Kami melakykan aktivasi instrumen trade remedy untuk melindungi konsumen domestik," katanya.

Catatab Kemendag, perdagangan AS dan China menghasilkan defisit bagi AS sekitar US$395,8 miliar pada 2017. Ekspor China menguasai sekitar 21% pasar impor AS atau mencapai US$526,2 miliar. Sementara bagi China, ekspor ke AS berkontribusi sebesar 18% dari total ekspornya.

Tag : ekspor
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top