Rentang Harga 40% Hak Partisipasi Rio Tinto Dinegosiasikan

PT Inalum (Persero) menyatakan sudah ada rentang harga untuk dinegosiasikan terkait rencana pembelian hak partisipasi Rio Tinto sebesar 40% di PT Freeport Indonesia.
Lucky Leonard | 21 Maret 2018 19:58 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan (kanan), berjabat tangan dengan CEO Freeport McMoRan, Richard Adkerson, disaksikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di sela-sela konferensi pers di Jakarta, Selasa (29/8). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA--PT Inalum (Persero) menyatakan sudah ada rentang harga untuk dinegosiasikan terkait rencana pembelian hak partisipasi Rio Tinto sebesar 40% di PT Freeport Indonesia.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan rentang harga tersebut diperoleh dari hasil riset beberapa bank. Menurutnya, hasil penghitungan satu bank dengan yang lainnya tidak terlalu jauh.

"Range harga sudah di-set. Di semua analyst research seperti dari Deutsche Bank, HSBC, Credit Suisse, Morgan Stanley itu sudah ditulis secara rinci. Enggak banyak beda," ujarnya, Rabu (21/3/2018).

Dia menegaskan, pihaknya akan bernegosiasi secara intensif untuk mendapatkan harga yang terbaik. Apalagi pemerintah telah menargetkan kesepakatan terkait divestasi Freeport Indonesia bisa diperoleh bulan depan.

Terkait pendanaannya, dia menyatakan semakin banyak pinjaman akan semakin baik. Namun, dia masih enggan mengungkapkan pihak mana saja yang memberi pinjaman dalam transaksi tersebut.

Adapun berdasarkan riset pasar Deutsche Bank pada yang dirilis 13 Februari 2018, akan cukup wajar apabila Rio Tinto melepas hak partisipasinya tersebut di atas US$3,3 miliar.

"Kami berpikir keluar [dari Grasberg] untuk nilai di atas US$3,3 miliar akan menjadi hasil yang layak bagi Rio Tinto," tulis riset tersebut.

Sebelumnya, valuasi atas saham Freeport Indonesia pernah beberapa kali muncul ke permukaan. Namun, nilainya kerap berubah karena adanya rentang waktu yang panjang.

Awalnya, porsi Rio Tinto tidak masuk hitungan dalam proses divestasi 51% Freeport Indonesia. Proses divestasi fokus pada pengambilalihan saham Freeport-McMoRan.

Pada awal 2016 lalu, harga 10,64% saham Freeport Indonesia dipatok senilai US$1,7 miliar atau US$16,2 miliar untuk 100% saham. Nilai tersebut dianggap kemahalan oleh pemerintah.

Kemudian pada akhir 2017 Adkerson mengungkapkan nilai seluruh saham Freeport Indonesia bisa melebihi US$13 miliar. Perkiraan tersebut turun dari valuasi sebelumnya, tapi masih dianggap terlalu tinggi.

Dalam waktu yang berdekatan, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengungkapkan nilai seluruh saham Freeport Indonesia sekitar US$8 miliar atau sekitar US$3,2 miliar untuk 40% saham. Hal tersebut melalui penghitungan sederhana berdasarkan kapitalisasi pasar Freeport-McMoRan.

Seperti diketahui, pembelian hak partisipasi Rio Tinto dalam rangka memenuhi kewajiban divestasi 51% Freeport Indonesia akan mengurangi dampak langsung terhadap Freeport-McMoRan inc, induk usaha Freeport Indonesia, yang saat ini menguasai 91,64% saham, secara signifikan. Pasalnya, dengan mengambil hak partisipasi Rio Tinto, maka Freeport-McMoRan hanya perlu melepas sahamnya sedikit lagi.

Adapun melalui kerja sama dengan Freeport-McMoRan yang pada 1996, Rio Tinto ikut berinvestasi dalam pengelolaan Tambang Grasberg di Papua dengan hak partisipasi sebesar 40%.

Hingga akhir 2021, Rio Tinto memiliki hak 40% apabila produksi mencapai level tertentu. Setelah itu, jatah 40% Rio Tinto akan dihitung dari seluruh produksi atau pendapatan Freeport Indonesia.

Jika hak partisipasi Rio Tinto itu berubah menjadi 40% saham di Freeport Indonesia, maka kepemilikan Freeport-McMoRan sebesar 81,28% akan terdilusi menjadi 48,768%, sementara anak usahanya, PT Indocopper Investasma, dan pemerintah Indonesia yang memiliki saham sebesar 9,36%, akan terdilusi menjadi 5,616%.

Apabila skema ini yang diambil, pihak nasional tinggal membeli saham Rio Tinto dan Indocopper Investama. Dengan demikian, kepemilikan nasional akan memenuhi ketentuan sebesar 51%.

Tag : freeport indonesia
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top