Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rekomendasi Impor Garam Industri Masih Tunggu Panen Lokal

Kementerian Perindustrian menunggu panen garam lokal untuk mengeluarkan rekomendasi impor garam industri tahap lanjut. Saat ini, masih terdapat ruang impor sebesar 654.000 ton dari kebutuhan total sepanjang 2018 sebesar 3,7 juta ton.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 21 Maret 2018  |  16:59 WIB
Petani memanen garam di Desa Kedungmalang, Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (19/8). - ANTARA/Yusuf Nugroho
Petani memanen garam di Desa Kedungmalang, Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (19/8). - ANTARA/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Perindustrian menunggu panen garam lokal untuk mengeluarkan rekomendasi impor garam industri tahap lanjut. Saat ini, masih terdapat ruang impor sebesar 654.000 ton dari kebutuhan total sepanjang 2018 sebesar 3,7 juta ton.

Kementerian Perdagangan baru saja mengeluarkan izin impor garam industri sebesar 676.000 ton. Sebelumnya, izin impor juga telah dikeluarkan sebesar 2,37 juta ton pada awal tahun.

Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin, mengatakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memproyeksi produksi garam rakyat pada tahun ini sekitar 1,5 juta ton dengan alokasi pemenuhan garam konsumsi sebesar 700.000 ton. Sisanya sebanyak 800.000 ton dapat diserap untuk industri.

"Dari 800.000 ton, kalau diproses jadi garam industri ada kemungkinan loss 20%, sehingga tinggal 600.000 ton hingga 700.000 ton. Ini yang kami cadangkan untuk substitusi impor. Kami prioritaskan garam lokal karena kalau petambak sudah produksi tidak terserap kan tidak baik," ujarnya, Selasa (20/3/2018).

Sigit menyebutkan panen garam lokal diperkirakan jatuh pada Juli hingga Oktober tahun ini. Keputusan apakah pemerintah akan mengimpor kembali garam industri baru ditetapkan setelah panen tersebut. 

Garam produksi lokal akan diserap oleh perusahaan pengolah garam industri yang saat ini tercatat sebanyak sembilan perusahaan. "Mereka pasti menyerap garam lokal, mereka sudah komitmen," kata Sigit. 

Terkait dengan kekhawatiran garam impor akan merembes ke pasar menjadi garam konsumsi, Sigit menegaskan hal ini tidak akan terjadi karena sebelum diberikan rekomendasi impor garam, perusahaan telah diverifikasi oleh KSO Sucofindo-Surveyor. Selain itu, menurutnya, kebutuhan garam suatu perusahaan bisa terlihat dari material balance.

"Kami berikan rekomendasi atas verifikasi KSO Sucofindo dan Surveyor, benar enggak kebutuhan garam dengan yang perusahaan sampaikan karena dari material balance bisa diketahui," ujarnya.

Dalam mengatasi permasalahan pasokan garam untuk industri, pemerintah baru saja menerbitkan PP No 9/2018 yang mengembalikan kewenangan pemberian rekomendasi impor garam kepada Kemenperin, sedangkan kewenangan rekomendasi impor garam konsumsi berada di tangan KKP. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garam
Editor : Ratna Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top