Jokowi dan Turnbull Intens Bahas IA-CEPA

Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull intens membahas perundingan Indonesia Australia-Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IA-CEPA.
Deliana Pradhita Sari | 18 Maret 2018 08:44 WIB
Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull dan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) berfoto bersama dengan 32 pemuda dan pemudi dari Indonesia dan Australia di Sydney Australia, Sabtu (17/3). - JIBI/ Deliana Pradhita Sari

Bisnis.com, SYDNEY -- Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull intens membahas perundingan Indonesia Australia-Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IA-CEPA.

Perundingan ini turut melibatkan Menteri Perdagangan (Menlu) Indonesia Enggartiasta Lukita, Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Julie Bishop, dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno Marsudi di Sydney, Australia.

Menlu Retno Marsudi mengatakan Presiden Jokowi dan PM Turnbull intens bernegosiasi tentang isi perjanjian IA-CEPA. Para jajaran menteri dari kedua negara turut menjembatani dan menyelesaikan masalah yang ada.

"Hingga saat ini, perundingan mencapai 90%, hampir tahap final," ungkapnya kepada wartawan dalam agenda briefing Asean-Australia Special Summit 2018, Minggu (18/3/2018).

Kendati begitu, masih ada beberapa hal yang masih harus dipetakan di antaranya terkait kerja sama pendidikan dan perpanjangan visa liburan dan bekerja. Untuk mematangkan hal tersebut, Pemerintah Indonesia akan mengundang PM Australia ke Tanah Air pada April 2018.

"Kami harapkan setelah bertemu pada April 2018, maka dicapai kesepakatan IA-CEPA akhir tahun ini," sebut Retno.

Dia mengaku Pemerintah Indonesia tidak ingin terburu-buru dalam meneken perjanjian perdagangan yang sangat penting. Kehati-hatian pemerintah ini bertujuan agar Indonesia tidak dirugikan dalam kesepakatan IA-CEPA.

Pada prinsipnya, perjanjian kerja sama ekonomi wajib menguntungkan kedua belah pihak. Apabila satu pihak merasa kurang diuntungkan dalam satu poin, poin lainnya harus diberi keuntungan lebih.

"Kalau ditotal kan jadinya seimbang, sama-sama untung," tutur Retno.

Perjanjian IA-CEPA diklaim bukan hanya proyek komersil tapi menitikberatkan pada kerja sama kooperatif yang menguntungkan.

Seperti diketahui, neraca perdagangan Indonesia-Australia menunjukkan tren negatif sejak 2014. Ekspor Indonesia ke Negeri Kangguru dalam lima tahun terakhir tidak sebanding dengan impor dari Australia yang terus meningkat.

Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan ekspor nonmigas ke Australia pada 2014 sebesar US$3,696 miliar. Nilai ekspor nonmigas terus mengalami penurunan menjadi US$2,994 miliar pada 2015, US$2,67 miliar pada 2016, dan US$1,943 miliar pada 2017.

Tag : indonesia-australia
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top