Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pinsar Sarankan Kuota Impor Bibit Ayam Diatur

Usaha PT. Berdikari dalam mengimpor bibit ayam menuai tanggapan dari Asosiasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR).
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 05 Maret 2018  |  20:53 WIB
Pinsar Sarankan Kuota Impor Bibit Ayam Diatur
Anak ayam usia sehari (day old chick). - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Usaha PT. Berdikari dalam mengimpor bibit ayam menuai tanggapan dari Asosiasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR).

BUMN Peternakan itu akan mengimpor 36.000 ekor DOC Grand Parent Stock (GPS) selama Maret yang akan dibagi pada beberapa fase. Fase pertama berhasil dilakukan dengan 17.000 DOC yang sudah didatangkan dari Prancis.

Jumlah tersebut merupakan kuota peralihan tahun 2017. Setelah Berdikari menyelesaikan kuota tersebut, baru akan dilanjutkan dengan pengimporan kuota tahun 2018.

Ketua PINSAR, Singgih Januratmoko mengatakan hal tersebut bisa dilakukan dengan catatan kuota total tetap diatur agar tidak menimbulkan masalah.

"Yang penting kuota total tetap di atur agar tidak [terjadi] masalah. Info 2018 kuotanya 636 ribu ekor," katanya kepada Bisnis, Senin (5/3/2018).

Dia mengatakan apabila kuota impor DOC GPS tidak diatur dapat menimbulkan over suplai pada rantai perdagangan. Hal tersebut sebab kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. dapat berujung pada kerugian.

"Kalau tidak di atur dapat over suplai seperti tahun-tahun sebelumnya,"katanya.

Dia mengatakan apabila hal tersebut terjadi, maka yang dirugikan adalah peternak. Tahun lalu dia menyebut over suplai DOC GPS sekitar 10-15%.

Sementara itu, Direktur Utama PT. Berdikari, Eko Taufik mengatakan tantangan terberat bagi perusahaannya adalah permodalannya dan birokrasi karena Berdikari baru memulai bisnis perunggasan.

"Yang dominan adalah permodalannya dan birokrasi karena Berdikari masih dianggap sebelah mata sehingga stake holder belum begitu aware. Padahal kami mampu dan kalau BUMN hadir akan cukup baik bagi tata kelola bisnis perunggasan," katanya.

Sebagai modal awal, Berdikari menggelontorkan dana sebesar Rp500 milliar untuk menjalankan bisnis perunggasan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ayam
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top