Keterlibatan RS Swasta di BPJS Kesehatan Meningkat

Rumah sakit swasta yang telah bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional kian meningkat hingga 2.200 rumah sakit pada 2018.
Rayful Mudassir | 12 Februari 2018 13:09 WIB
Ilustrasi. - .Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Rumah sakit swasta yang telah bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional kian meningkat hingga 2.200 rumah sakit pada 2018.

Pada dasarnya rumah sakit (RS) swasta tidak diwajibkan untuk bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Namun mayoritas RS swasta sudah ikut hampir mencapai 65%. Diyakini setiap tahun angka ini akan terus bertambah seiring market pasien rumah sakit mayoritas peserta JKN KIS.

"Untuk target 100% belum bisa diprediksi karena masih ada RS swasta yang belum siap dan memang market-nya berbeda," kata Wakil Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) dr Noor Arida Sofiana kepada Bisnis.

Dia mengatakan, pada dasarnya RS swasta sangat mendukung program JKN. Pasalnya program yang diusung pemerintah tersebut cukup berguna bagi masyarakat. Namun pihaknya menilai perlu segera diperbaiki sejumlah kekutangan agar kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat terus ditingkatkan.

Noor Arida menuturkan, pemerintah perlu memperhatikan dan menyelesaikan persoalan kecukupan anggaran JKN. Perbaikan tarif INa CBG's yang harus dibedakan antara RS swasta dan milik pemerintah juga perlu dirasionalkan. Pasalnya RS swasta tidak mendapat subsidi dari pemerintah.

"Juga diperlukan perbaikan dalam proses verifikasi klaim serta ketepatan waktu pembayaran klaim agar cash flow RS swasta tidak terganggu dan RS tetap dapat melaksanakan fungsi dlm memberikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan baik," paparnya.

Rumah sakit swasta akhir-akhir ini menghadapi keterlambatan pembayaran, khususnya menyoal sistem klaim dari BPJS. Keterlambatan tersebut membuat rumah sakit swasta terpaksa menalangi biaya untuk rumah sakit hingga dicairkan oleh pemerintah. Perusahaan obat-obatan juga enggan memasok obat jika biaya tidak disalurkan segera.

Dampak keterlambatan pembayaran obat tersebut berakibat pada tidak dapat membayar obat dan menopang biaya operasional RS. Kondisi tersebut akan membuat kekosongan obat karena rumah sakit terlambat membayar obat ke distributor obat dan pemenuhan kebutuhan operasional yang lain.

Keterlambatan tersebut dikhawatirkan bakal mengganggu keuangan di rumah sakit. Bahkan kondisi ini berpotensi membuat mutu pelayanan menurun, di tengah upaya pemerintah mendorong peningkatan pelayanan kesehatan.

Saat ini menurutnya, proses verifikasi klaim dari BPJS cukup lama, yakni sekitar dua hingga tiga bulan. Misalnya pembayaran untuk bulan Oktober – November, BPJS baru menyerahkannya pada Februari 2018.

“Selain itu tentang tarif biaya rumah sakit, dalam Permenkes disebutkan tarif akan dievaluasi dalam dua tahun, namun selama empat tahun ini kami rasakan belum sesuai harapan, berada di bawah real cost rumah sakit,” kata Noor Arida.

Pihaknya meminta pemerintah tidak menetapkan satuan harga pengobatan berdasarkan kelas rumah sakit, namun sesuai dengan kompetensi pelayanan yang dapat diberikan oleh rumah sakit tersebut. Arida turut meminta pemerintah menyelaraskan biaya klaim untuk rumah sakit swasta dapat meningkat setidaknya 30% dari angka saat ini yakni 5% lebih tinggi dibanding rumah sakit milik pemerintah. Pasalnya RS swasta harus menggunakan biaya tanpa subsidi pemerintah.

“Karena selama ini dibedakan. Makin tinggi kelasnya, akan semakin besar standar biayanya. Kemudian juga berdasarkan regionalisasi. Untuk swasta kan rata-rata kelas C. Harusnya berdasarkan base on kompetensi, bukan berdasarkan kelas rumah sakit,” tutur Arida.

ARSSI meminta pemerintah tegas menyelesaikan sengkarut masalah yang dihadapi oleh rumah sakit swasta ini. Kondisi devisit yang dialami oleh BPJS Kesehatan ikut mendorong sejumlah kekhawatiran tersebut semakin melebar.

Di sisi lain, RS swasta makin banyak ikut bekerja sama dengan pemerintah dalam menerapkan sistem JKN. Hal ini menurutnya merupakan sebuah tantangan karena program JKN membuat seluruh masyarakat harus menjadi peserta.

"Ini peluang dan tantangan RS swasta untuk berkembang. Program ini sangat bagus dan bermanfaat, karena jumlah peserta meningkat, tapi tentunya harus diimbangi beberapa perbaikan seperti soal tarif, kecukupan anggaran. Akan sangat bagus apabila sistem kec

 

 

 

 

 

Tag : rumah sakit
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top