Himpunan Kawasan Industri Sesalkan Pasokan Gas yang Seret

Sanny Iskandar, Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI), menyayangkan adanya pengurangan pasokan gas industri ke pabrik-pabrik, khususnya yang berada di kawasan industri di Sumatra Utara. Menurutnya, hal ini menunjukkan dukungan utilitas industri ke pelaku industri manufaktur belum konsisten.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 18 Desember 2017  |  17:59 WIB
Himpunan Kawasan Industri Sesalkan Pasokan Gas yang Seret
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar. - JIBI/Rahmatullah

Bisnis.com, JAKARTA—Sanny Iskandar, Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI), menyayangkan adanya pengurangan pasokan gas industri ke pabrik-pabrik, khususnya yang berada di kawasan industri di Sumatra Utara. Menurutnya, hal ini menunjukkan dukungan utilitas industri ke pelaku industri manufaktur belum konsisten.

“Ini sangat serius karena dapat mematikan atau mengakibatkan hengkangnya investor ke negara lain karena harus menanggung kerugian dan menghadapi ketidakpastian dalam berusaha,” ujarnya.

Dia pun berharap pemerintah dapat memastikan pasokan gas untuk industri tetap aman dengan adanya cadangan pasokan apabila sewaktu-waktu terjadi masalah. Selain itu, pemasok gas juga diminta dapat lebih profesional, misalnya dengan kewajiban ikut menanggung kerugian apabila terjadi masalah pasokan gas.

Menurutnya, secara bisnis, perusahaan pengguna dan pemasok gas telah memiliki kontrak atau service level guarantee yang menyatakan apabila pasokan gas terganggu, maka perusahaan pemasok mendapatkan penalty.

“Namun, posisi tawar industri biasanya lemah, dapat jaminan pasokan saja sudah bersyukur, kecuali pilihan pemasok gasnya bisa lebih banyak. Untuk saat ini kan pilihannya hanya sedikit,” katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengatakan saat ini kondisi pasokan gas di Sumatra Utara belum memenuhi kebutuhan industri sehingga harus mengambil dari daerah lain yang lebih jauh, seperti Lampung. Walaupun harga gas yang diterima dinilai masih mahal, tetapi pelaku industri tidak memiliki pilihan lain karena pasokan gas yang kurang.

“Saat ini harga gas industri sekitar US$9 per MMBtu, sudah turun dari sebelumnya US$12-US$13 per MMBtu. Namun, harga ini sebenarnya masih mahal untuk industri,” kata Haris.

Haris menuturkan gas di Sumut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga untuk energi. Beberapa sektor industri yang menggunakan gas di wilayah tersebut antara lain industri kaca, keramik, sarung tangan karet, dan logam.

Menurutnya, perlu ada perusahaan penyedia gas yang lain agar harga gas di Sumut lebih kompetitif. Saat ini infrastruktur gas untuk industri di Medan lebih banyak didominasi oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gas

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top