Kerja Sama PT Garam dan Petani Bisa Jadi Opsi Pacu Produksi, Tapi Engga Mudah

Kerja sama PT Garam dan petani garam di Indonesia merupakan salah satu opsi yang diakui Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia untuk menggenjot produktivitas garam nasional. Meskipun itu bukan hal yang mudah.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 23 November 2017 00:54 WIB
Petani memanen garam di desa Tanjakan, Karangampel, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (19/10). - ANTARA/Dedhez Anggara

Bisnis.com, JAKARTA -  Kerja sama PT Garam dan petani garam di Indonesia merupakan salah satu opsi yang diakui Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia untuk menggenjot produktivitas garam nasional. Meskipun itu bukan hal yang mudah.

Saat ini, rata-rata produksi garam nasional  mencapai sekitar 1,7 juta — 2 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 4,2 juta ton per tahun, yang didominasi oleh garam industri.

"Jika PT Garam bisa menggadeng sebagian besar petani garam,  bisa meningkatkan produksi nasional," kata Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Tony Tanduk, di Jakarta, Rabu (22/11/2017).

Namun, kerja sama dengan petani garam bukan hal mudah. Petani garam hanya memiliki lahan 25.000 ha dan tidak terintegrasi alias terserak di beberapa tempat  di seluruh Indonesia.

Selain itu, setiap petani hanya memiliki lahan sekitar dua hektare. "Itu membuat  industri  kesulitan untuk mencapai kesepakatan dengan seluruh petani," ujarnya.

"Tidak hanya terpisah-pisah, tetapi produktivitas petani tidak sama, bahkan kualitas garam mereka pun berbeda-beda," ungkapnya.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperkirakan luas lahan yang dimiliki oleh petani garam mencapai 24.000 –25.000 hektare (ha), sedangkan PT Garam memiliki hanya 5.340 ha lahan.

Produktivitas PT Garam diperkirakan berada pada kisaran 80 — 100 ton per ha, sedangkan petani garam hanya bisa menghasilkan 60—80 ton per ha.

Tag : garam
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top