PT Garam Ajak BPPT Bangun Pabrik Garam Terintegrasi

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bekerja sama dengan PT Garam untuk mengembangkan pabrik garam terintegrasi demi mengurangi ketergantungan impor.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 20 November 2017 15:16 WIB
Petani memanen garam di areal tambak garam desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bekerja sama dengan PT Garam untuk mengembangkan pabrik garam terintegrasi demi mengurangi ketergantungan impor.

Unggul Priyanto, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengatakan rencana itu diawali dengan pembuatan pabrik percontohan nasional yang terintegrasi dari mulai lahan, pengolahan bahan baku, dan proses akhir sehingga menghasilkan garam industri.

"BPPT dengan dukungan PT Garam mencoba membangun pilot project pabrik garam industri di kawasan lahan pegaraman terintegrasi di Bipolo, Kupang, NTT," kata Unggul dalam Acara Penandatanganan Kesepakatan Bersama BPPT dengan PT Garam, Senin (20/11/2017).

Lebih lanjut, Unggul menambahkan, pabrik ini memiliki konsep keterhubungan dari mulai pengolahan sumber daya air laut sampai dengan produk jadi. Produk yang dapat diperoleh dari pabrik tersebut seperti garam industri, trace mineral, produk budidaya perikanan, dan artemia.

Kolaborasi ini akan dimulai pada akhir 2017 dan diharapkan pada 2018 telah dibangun fasilitas refinery garam. Kesepakatan antara BPPT dan PT Garam sebagai payung hukum untuk kerja sama dalam pengembangan lahan garam secara terintegrasi di daerah Bipolo tersebut.

Eniya Listiani Dewi, Deputi Kepala Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT, mengatakan pabrik tersebut hanya membutuhkan lahan sekitar 3 hektare di dalam kawasan yang menjadi pilot project dari BPPT yang mencapai 75 hektare. “Dari sekitar 75 hektare ini sebagian besar digunakan untuk mekanisasi garam dan lain-lain, hanya butuh 3 hektare untuk tempat pabrik. Kapasitas pabrik ini dapat mencapai 40.000 ton per tahun melalui kerja sama dengan PT Garam,” kata Eniya.

Menurutnya, pabrik tersebut berlokasi di sebelah PT Garam yang saat ini telah mempunyai lahan seluas 318 hektare di Bipolo. Adapun rencana ke depan dari 75 hektare lahan BPPT ini akan diperluas hingga mencapai 225 hektare untuk memenuhi segala proses integrasi pabrik.

Seperti yang diketahui, garam merupakan komoditas strategis karena banyak diperlukan sebagai bahan baku di berbagai industri kimia terutama untuk memproduksi gas klor, asam klorida, natrium hidroksida, natrium sulfat, natrium karbonat, dan natrium bikarbonat. Garam memiliki peran vital karena digunakan untuk beberapa sektor industri seperti makanan dan minuman, farmasi, kimia, kertas, gelas, tekstil, pengeboran minyak dan lain-lain.

Permasalahan utama dari komoditas garam ini adalah industri dalam negeri belum bisa memproduksi sesuai dengan kebutuhan nasional. Adapun Indonesia tercatat harus impor garam dari Australia sekitar 1,8 juta ton per tahun untuk memenuhi permintaan industri. Dengan demikian, pembangunan pabrik garam untuk kebutuhan industri ini diharapkan mampu untuk mengurangi ketergantungan impor, bahkan diharapkan bisa ke depan bisa untuk meningkatkan kapasitas garam nasional untuk demand Tanah Air.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garam

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top