Jagung dikembangkan di Lahan Marjinal Perbatasan

Kementerian Pertanian bersama dengan organisasi pangan dunia (FAO) tahun ini mengembangkan jagung di lahan marjinal wilayah perbatasan.
Azizah Nur Alfi | 17 Agustus 2017 15:10 WIB
Petani menjemur jagung di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Kamis (3/8). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Pertanian bersama dengan organisasi pangan dunia (FAO) tahun ini mengembangkan jagung di lahan marjinal wilayah perbatasan.

Dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pertanian, pengembangan jagung dilakukan di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, sekaligus untuk membangun lumbung pangan di wilayah perbatasan.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Koordinator Upaya Khusus Provinsi NTT Ani Andayani mengatakan, upaya peningkatan produksi jagung di NTT dan NTB disinergikan dengan model konservasi pertanian yang sedang diimplementasikan FAO guna menjaga keberlanjutan kesuburan tanah.

Model ini bertujuan meningkatkan kesuburan tanah melalui optimasi kelembapan tanah, efisiensi pemanfaatan air tanah, penggunaan bahan organik untuk kesuburan tanah.

"Ini sinergi yang positif untuk peningkatan produksi jagung di NTT dan NTB yang lahan pertaniannya relatif kurang subur dan banyak memiliki lahan terlantar atau lahan marjinal," kata dia.

Realisasi luas tanam jagung di NTT pada musim tanam Oktober - Maret 2016 sebesar 289.112 ha. Adapun, luas tanam pada musim tanam Oktober - Maret 2017 sebesar 324.501 ha, lebih tinggi dari target yang dipasang sebesar 268.056 ha.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jagung

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top