Siaga Darurat Karhutla, BNPB Kerahkan 12 Helikopter Waterbombing

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengerahkan sedikitnya 12 helikopter waterbombing dan dua pesawat hujan buatan untuk mengefektifkan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di tiga provinsi.
Puput Ady Sukarno | 22 Juni 2017 14:49 WIB
Ilustrasi: Simulasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Siak, Riau. - Antara/Rony Muharrman

Bisnis.com, SEMARANG - Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengerahkan sedikitnya 12 helikopter waterbombing dan dua pesawat hujan buatan untuk mengefektifkan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di tiga provinsi.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, membenarkan bahwa ketiga provinsi yang selama ini menjadi langganan karhutla telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla.

Ketiganya yakni Provinsi Riau (24/1/2017 hingga 30/11/2017), Sumatra Selatan (30/1/2017 hingga 30/11/2017), dan Kalimantan Barat (1/6/2017 hingga 31/10/2017).

"Kami telah mengerahkan sedikitnya 12 helikopter waterbombing dan dua pesawat hujan buatan untuk mengefektifkan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di tiga provinsi," tutur Sutopo, Kamis (22/6/2017).

Sutopo menerangkan enam helikopter waterbombing itu ditempatkan di Riau yaitu 4 heli di Pekanbaru dan 2 heli di Dumai.

Sementara 6 helikopter waterbombing yang dioperasikan di Riau adalah jenis Sikorsky, MI-171, MI8 MTV-1, MI-172 dan Bolkow yang memiliki kapasitas 600–4.000 liter.

Sedangkan di Sumatra Selatan dioperasikan 3 helikopter waterbombing jenis MI-17 dan Bolkow, dan 2 pesawat terbang Casa 212 untuk hujan buatan.

Operasi hujan buatan telah digelar di Sumatera Seelatan sejak 8/6/2017. Setiap hari awan-awan potensial di atas sekitar Sumatera Selatan disemai dengan bahan NaCl untuk dijatuhkan menjadi hujan.

Sedangkan di Kalimantan Barat, dioperasikan 3 helikopter jenis Bel-214B, MI-8 dan Kamov yang berkapasitas 3.000 – 5.000 liter.

Pengerahan 12 helikopter waterbombing dan 2 pesawat hujan buatan merupakan salah satu strategi operasi penanggulangan karhutla.

Menurut Sutopo ada lima strategi yaitu operasi pemadaman di darat, operasi pemadaman udara, operasi penegakan hukum, operasi pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

"Hingga saat ini jumlah hotspot [titik panas] yang terdeteksi oleh satelit menunjukkan adanya penurunan dibandingkan dengan sebelumnya," ujar Sutopo.

Jumlah hotspot dari satelit Modis (Terra Aqua) dengan tingkat kepercayaan 80% yang artinya terbakar pada 2015 sebanyak 2.810 titik, pada 2016 sebanyak 1.917 titik, dan 2017 sebanyak 157 titik.

Selama 2017 (hingga Juni 2017) terjadi penurunan hotspot sebanyak 1.681 titik atau 91,45% dibandingkan dengan periode yang sama 2016.

Begitu juga dengan luas hutan dalan lahan yang terbakar juga menunjukkan penurunan. Luas hutan dan lahan yang terbakar pada 2015 sebanyak 2,61 juta hektar, pada 2016 sebanyak 438 ribu hektar, dan 2017 sebanyak 15.983 hektar.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dari 15.983 hektar hutan dan lahan yang terbakar terdapat di lahan gambut 5.922 hektar dan tanah mineral 10.061 hektar.

"Mengingat jumlah hotspot harian dan karhutla di beberapa Provinsi (Jambi, Kalbar, Kalteng) meningkat serta kondisi iklim telah memasuki musim kemarau maka diharapkan daerah mempertimbangkan penetapan status siaga darurat bencana asap akibat karhutla 2017. Jangan sampai terlambat seperti tahun 2015," ujar Sutopo.

Sementara itu, daerah lain yang sering terjadi karhutla belum menetapkan siaga darurat seperti Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Papua.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Karhutla

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top