Pemerintah Akan Anggarkan Subsidi Benih Tebu 2018

Pemerintah berencana menganggarkan dana subsidi penggantian bibit tebu unggul atau bongkar ratoon pada 2018 sebagai salah satu upaya akselerasi industri gula nasional.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 10 Mei 2017  |  16:13 WIB

Bisnis.com, SURABAYA – Pemerintah berencana menganggarkan dana subsidi penggantian bibit tebu unggul atau bongkar ratoon pada 2018 sebagai salah satu upaya akselerasi industri gula nasional.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang mengatakan program bongkar ratoon ini rencananya akan bekerja sama dengan pabrik gula dan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI).

“Kami juga akan kerja sama dengan pemda yang di wilayah lahan tebunya sudah berkali-kali ditanami 5-6 kali dan belum melakukan bongkar ratoon akan diolah kembali dan ditanami lagi. Kami targetkan tahun depan bongkar ratoon sampai 15.000 ha,” jelasnya di sela-sela FGD Pemberdayaan Benih Unggul Tebu sebagai Upaya Akselerasi Industri Gula Nasional di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, Rabu (10/5/2017).

Bongkar ratoon sendiri merupakan pembibitan ulang setelah lahan tanaman tebu sebelumnya sudah berkali-kali ditebang, tumbuh dan ditebang berulang-ulang. Pembibitan ulang ini merupakan cara mendorong peningkatan produksi dan produktivitas tebu agar menghasilkan rendemen yang tinggi.

Namun begitu, lanjutnya, biaya bongkar ratoon ini tidak sedikit sehingga cukup memberatkan petani. Dia menyebutkan, biaya benih per bagan sekitar Rp500/mata (benih) sehingga bisa menghabiskan banyak biaya bila dikalikan satu hektar lahan.

“Nah, nanti diari anggaran tersebut P3GI yang akan menyiapkan benihnya dan berkolaborasi dengan pabrik gula sesuai dengan varietas yang dibutuhkan stakeholder pabrik gula itu sendiri,” jelasnya.

Bambang menambahkan, pihaknya juga akan mengajak petani untuk mau melakukan regrouping lahan tebu agar mudah dilakukan mekanisasi. Selama ini pun, minat petani untuk menanam tebu masih sangat kurang lantaran rendahnya keuntungan yang diperoleh.

“Petani butuh sarana produksi seperti subsidi benih, pupuk dan kegiatan regroupigng karena selama ini lahan mereka diolah secara manual. Sekarang tinggal meyakinkan petani agar mau regrouping dan lahannya menjadi satu hamparan sehingga bongkar ratoon atapun mekanisasi bisa berjalan,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur P3GI, Triantarti mengatakan selama ini penyediaan benih unggul nasional dari sisi perakitan varietas oleh P3GI belum terkonek dengan pabrik gula sehingga kebutuhan pabrik gula terkadang tidak sesuai dengan bibit yang dibuat oleh P3GI.

Selain itu, selama ini petani umumnya membeli bibit langsung dari P3GI tanpa bantuan subdidi pemerintah.

“Dulu petani langsung beli benih di P3GI lalu ditangkarkan sendiri, ada yang berhasil dan ada yang tidak. Memang perlu pengalaman dan pembinaan. Nah kalau sekarang PG sudah bersinergi dengan kami maka kamsi siap menyediakan benih untuk bongkar ratoon 15.000 ha,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk mencapai target swasembada gula 2019, pemerintah harus berkomitmen untuk melakukan bongkar ratoon lahan tebu, idealnya bongkar ratoon mencapai 63.000 ha per tahun, dari total lahan tebu petani rakyat mencapai 240.000 ha.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tebu, kementan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top