Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INVESTASI JAWA TIMUR: 2017, Ditargetkan Sabet Rp165 Triliun

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan dapat mengantongi investasi senilai Rp165 triliun sepanjang tahun ayam api ini.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 20 Maret 2017  |  16:39 WIB
Ilustrasi. - .Reuters/Bobby Yip
Ilustrasi. - .Reuters/Bobby Yip

Bisnis.com, SURABAYA— Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan dapat mengantongi investasi senilai Rp165 triliun sepanjang tahun ayam api ini.

Kepala Badan Penanaman Modal Provinsi Jatim Lili Soleh Wartadipradja mengatakan target senilai Rp165 triliun tersebut terdiri dari penanaman modal asing (PMA) senilai Rp60 triliun, penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp40 triliun, dan PMDN non fasilitas senilai Rp65 triliun.

“Yang paling tinggi PMDN nonfasilitas, walaupun skalanya lebih kecil, namun rata-rata setiap tahun antara Rp70 triliun hingga Rp90 triliun realisasinya,” ujarnya kepada Bisnis di Surabaya, Senin (20/3/2017).

Lili menjelaskan PMDN non fasilitas merupakan penanaman modal yang dilakukan oleh kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) yang tidak mendapatkan dan mengurus bea masuk dan pajak untuk mesin dan bahan baku. Di Jatim, investasi oleh UKM dicatat oleh Badan Penanaman Modal kendati di pusat dicatat oleh Kementerian Koperasi dan UKM.

Realisasi PMDN non fasilitas pada tahun lalu tercatat senilai Rp82,14 triliun atau lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang senilai Rp95,77 triliun. Adapun, sejak 2011 realisasi PMDN non fasilitas berada di atas Rp70 triliun.

Lili menjelaskan Pemprov Jatim pada tahun ini tidak begitu tinggi mematok target untuk PMDN non fasilitas karena melihat segmen UKM diproyeksikan bakal sedikit melambat pada tahun ini, terdampak situasi ekonomi global dan domestik.

Sementara itu, secara keseluruhan, total realisasi investasi sepanjang 2016 senilai Rp155,04 triliun dengan rincian PMA yang terdiri 552 proyek dengan nilai Rp26,57 triliun, PMDN yang terdiri dari 529 proyek dengan nilai Rp46,33 triliun, dan PMDN non fasilitas yang terdiri dari 130.520 usaha senilai Rp82,14 triliun.

Untuk mencapai target yang ditetapkan, Lili menuturkan Pemprov Jatim aktif dalam mengejar para investor, terutama dari luar negeri, yang telah memiliki izin prinsip cukup lama, namun belum mulai realisasi. Tahun lalu, melalui langkah ini, Pemprov Jatim berhasil meraih realisasi investasi senilai Rp1,3 triliun dari izin prinsip senilai Rp12 triliun.

“Tahun ini kami akan mengejar investor dari Iran dan Arab Saudi,” ujarnya.

Selain itu, Pemprov Jatim baru saja menerima kunjungan delegasi dari China yang terdiri dari 40 perusahaan dan berminat membenamkan investasi di Jatim. Dalam kunjungan ini, Pemprov Jatim mempertemukan perusahan-perusahaan tersebut dengan perusahaan lokal yang tertarik untuk bekerjasama.

Saat ini, jumlah perusahaan Negeri Tirai Bambu yang ada di Jatim tercatat sebanyak 391 perusahaan, yang terhitung dalam kurun waktu 1996 hingga 2016. Selama ini, lanjut Lili, investor China dinilai lambat dalam melakukan realisasi setelah mendapatkan izin prinsip.

“Permasalahannya antara lain ketersediaan lahan, belum mengenal baik budaya bisnis di Jatim, dan kendala perizinan lanjutan di kabupaten atau kota,” ujar Lili.

Adapun, berdasarkan data tahun lalu, Jepang menjadi negara dengan nilai realisasi invetasi terbesar di Jatim senilai Rp7,45 triliun, disusul Singapura dengan nilai investasi Rp6,39 triliun, Belanda dengan nilai investasi Rp3,12 triliun, dan China dengan nilai investasi Rp2,04 triliun.

Apabila dirinci berdasarkan sektor, realisasi investasi sepanjang tahun lalu didominasi oleh sektor transportasi, gudang dan komunikasi senilai Rp10,97 triliun, disusul oleh industri kimia dan farmasi dengan realisasi investasi Rp9,30 triliun, dan industri makanan senilai Rp8,82 triliun.

Sementara itu, sebelumnya, salah satu pabrik alas kaki yang berada di Mojokerto PT Dwi Prima Sentosa tengah berekspansi bisnis dengan membangun pabrik kedua di Ngawi. Lily, Direktur Dwi Prima Sentosa, mengatakan pemilik perusahaan, yang merupakan usaha bersama antara pengusah Korea Selatan dan Indonesia ini telah menyiapkan dana ekspansi sekitar US$10 miliar.

Saat ini satu gedung pabrik Ngawi telah beroperasi sejak tahun lalu. “Dua gedung sedang dalam proses pembangunan. Nanti, totalnya ada tiga gedung dan ditargetkan selesai akhir 2018,” katanya.

Jumlah tenaga kerja Dwi Prima Sentosa di pabrik Mojokerto tercatat sebanyak 2.500 orang dan di Ngawi sebanyak 1.250 orang. Lily mengatakan apabila ketiga gedung di Ngawi telah beroperasi semua, jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan sekitar 6000 orang.

Untuk tahun ini, perusahaan menargetkan volume penjualan produk alas kaki bisa tumbuh sebesar 40%. Lily menuturkan saat ini permintaan alas kaki di perusahaan masih baik dan tidak terlalu terdampak oleh perlambatan ekonomi global.

Setiap bulan, perusahaan ini memproduksi 150.000 pasang sepatu yang diekspor ke berbagai negara, seperti Jepang dan Perancis, dan dijual di pasar domestik dengan perbandingan 70% untuk ekspor dan 30% untuk pasar dalam negeri.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top