Kerja Sama Iran: Sektor Hulu Migas Jadi Fokus

Sektor hulu minyak dan gas bumi menjadi fokus utama dalam kerja sama dengan Iran melalui penyampaian proposal untuk mengembangkan Lapangan Ab-Teymour dan Mansouri oleh Pertamina dalam kunjungan akhir pekan lalu hingga Selasa (28/2).
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 27 Februari 2017  |  20:03 WIB
Bisnis.com, JAKARTA--Sektor hulu minyak dan gas bumi menjadi fokus utama dalam kerja sama dengan Iran melalui penyampaian proposal untuk mengembangkan Lapangan Ab-Teymour dan Mansouri oleh PT Pertamina (Persero) dalam kunjungan yang dilakukan pada akhir pekan lalu hingga Selasa (28/2).
 
Senior Vice President Upstream Business Development PT Pertamina (Persero) Denie Tampubolon mengatakan pihaknya telah menyerahkan proposal untuk mengikuti lelang.
 
Saat ini, delegasi Indonesia yang diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar dan Pertamina. 
 
Adapun, Pemerintah Iran melalui National Iranian Oil Company (NIOC) menawarkan agar Pertamina memasukkan proposal untuk mengelola dua lapangan minyak tersebut dalam nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang diteken tahun lalu. 
 
Untuk mendapatkan dua lapangan tersebut, Pertamina bersaing dengan perusahaan lain salah satunya Lukoil asal Rusia. Adapun, total cadangan Lapangan Ab-Teymour dan Mansouri diperkirakan mencapai 5 miliar barel. Kedua lapangan tersebut dalam tahap produksi yakni 48.000 barel per hari (bph) untuk Lapangan Ab-Teymour dan 54.000 bph untuk Lapangan Mansouri. 
 
"Kami serahkan proposalnya dulu, yaitu hasil evaluasi team Pertamina sesuai MoU," ujarnya saat dihubungi Senin (27/2).
 
Setelah penyampaian proposal, ujar Denie, pihaknya akan melakukan pembicaraan untuk membahas tahap berikutnya dengan NIOC. Dari produksi blok tersebut diharapkan bisa menyuplai 35.000 bph minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. 

Saat ini, perseroan mendapatkan produksi dari operasi di tiga negara yakni Irak, Aljazair dan Malaysia. Di Irak berasal dari Lapangan West Qurna 1 dengan 178 sumur aktif. Pada blok tersebut,

ExxonMobil menguasai saham partisipasi (participating interest/PI) sebesar 32,69% dan menjadi operator, PetroChina sebesar 32,69%, Shell sebesar 19,62%, Pertamina Internasional Eksplorasi&Produksi (PIEP) menguasai 10%, dan South Oil Company (SOC) Iraq 5%. 

Pada kegiatan di Aljazair, yakni di Lapangan MLN, PIEP menguasai 65% dan Talisman 35%. Sementara, di Lapangan EMK terdapat beberapa mitra seperti Sonatrach (37,74%), Anadarko (18,13%), PIEP (16,9%), Talisman (9,10%), ENI (9,065%) dan Maersk (9,065%).

Sementara, aset produksi di Malaysia berasal dari kegiatan di Blok K, Blok Kikeh, Blok SNP, Blok SK309 dan Blok SK311. Pada blok tersebut, Pertamina bermitra dengan Murphy Oil, Petronas, ConocoPhillips dan Shell.

Adapun, produksi rata-rata perseroan sebesar 123.000 barel setara minyak (barrel oil equivalent per day/boepd) yakni 87.000 bph minyak dan 215 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd) gas. Rencananya, pada 2017, target bertambah menjadi 127.000 boepd dan menjadi 700 boepd pada 2025 dengan penambahan aset baru. 

 
"Setelah itu, tentu pembicaraan dua pihak (Pertamina dan NIOC) untuk tahap selanjutnya."
 
Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan pihaknya menyiapkan dana US$1 miliar untuk mengakomodasi kegiatan penguasaan wilayah kerja migas. Adapun, fokus utama perseroan selain Iran yakni Lapangan Russkoye di Rusia sebagai bagian dari kerja sama dengan Rusia dalam proyek Kilang Tuban, Jawa Timur. 
 
Pertamina pun telah menguasai transaksi pembelian saham di perusahaan Prancis, Maurel et Prom dengan kepemilikan saham 64,46%. Dengan kepemilikan tersebut, kegiatan di Gabon dan Tanzania bisa dikendalikan. 
 
"Untuk tahun ini masih di-budgetkan, sekitar US$1 miliar," katanya. 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
iran, hulu migas

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top