Penangkapan Tuna: Iuran RI di RFMO Naik Terus, tapi Pemanfaatan Kuota Turun

Iuran yang dibayarkan Indonesia ke organisasi pengelolaan sumber daya perikanan regional (RFMO) semakin meningkat setiap tahun, tetapi pemanfaatan terhadap kuota penangkapan tuna menurun dalam dua tahun terakhir.
Sri Mas Sari | 21 Desember 2016 02:25 WIB
Ikan tuna - Antara/Ampelsa

Bisnis.com, JAKARTA -- Iuran yang dibayarkan Indonesia ke organisasi pengelolaan sumber daya perikanan regional (RFMO) semakin meningkat setiap tahun, tetapi pemanfaatan terhadap kuota penangkapan tuna menurun dalam dua tahun terakhir.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan iuran yang dibayarkan Indonesia ke Commision for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) -- RFMO untuk penangkapan tuna sirip biru di Samudra Hindia-- tahun ini 153.424 dolar Australia, jauh lebih besar dari dana yang dibayar saat negara ini baru bergabung menjadi anggota organisasi itu pada 2008 senilai 127.929 dolar Australia.

Peningkatan kontribusi juga terjadi pada keanggotaan Indonesia di the Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) --RFMO untuk penangkapan tuna di Samudra Pasifik bagian tengah dan barat. Iuran Indonesia yang pada 2013 --saat Indonesia baru bergabung-- yang hanya US$168.560 kini menjadi US$192.039.

Namun, KKP menyebutkan pemanfaatan (utilitas) atas kuota penangkapan tuna yang ditetapkan di RFMO tidak optimal. Di WCPFC misalnya, realisasi penangkapan tuna mata besar (big eye) longline hanya 3.000 ton per tahun, bahkan nol pada tahun lalu. Padahal, Indonesia memperoleh kuota 5.889 ton per tahun. Kekurangan armada penangkapan ikan menjadi penyebab.

Mengutip laman WCPFC hari ini, jumlah kapal penangkap ikan berbendera Indonesia yang beroperasi di laut lepas hanya 11 armada yang terdiri atas tujuh kapal pole and line dan empat kapal purse seine.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ikan tuna

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top