Mentan Tandai Dimulainya Program Sapi Indukan Wajib Bunting

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mencanangkan inseminasi buatan sebagai tanda dimulainya program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting ke seluruh provinsi di Indonesia, kecuali DKI Jakarta dan Kepulauan Riau.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 15 November 2016  |  17:35 WIB
Mentan Tandai Dimulainya Program Sapi Indukan Wajib Bunting
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -  Menteri Pertanian Amran Sulaiman mencanangkan inseminasi buatan sebagai tanda dimulainya program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting ke seluruh provinsi di Indonesia, kecuali DKI Jakarta dan Kepulauan Riau.

"Inseminasi Buatan merupakan salah satu strategi untuk peningkatan produktifitas sapi perah di Indonesia, sehingga kegiatan ini sebagai gerakan masyarakat peternak di Indonesia untuk lebih menyemangati peternak dalam mengembangbiakkan ternaknya," kata Menteri Amran Sulaiman dalam siaran pers Humas Kementerian Pertanian yang diterima di Jakarta, Selasa (15/11/2016).

Menteri Pertanian mencanangkan Inseminasi Buatan (IB) Serempak se-Indonesia yang dipusatkan di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah di Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 15 November 2016.

KUNAK merupakan salah satu model pembangunan peternakan yang dikembangkan dengan pendekatan pembangunan yang holistik, bukan hanya sekedar pembangunan teknis peternakan, namun juga pembangunan ekonomi wilayah. Hasil dari pembangunan kawasan ini sudah dapat dilihat dengan telah terwujudnya satu kawasan usaha produksi sapi perah yang dilakukan oleh 180 peternak dengan populasi sapi mencapai 2.150 ekor dan produksi susu sebanyak 11 ribu liter per hari.

Menteri Pertanian menyampaikan bahwa optimalisasi kegiatan IB serempak se-Indonesia ini merupakan salah satu strategi dalam pelaksanaan Upsus (Upaya Khusus) Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus SIWAB) 2017.

Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan asal ternak dan meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus mengejar swasembada sapi tahun 2026 seperti yang ditargetkan Presiden Joko Widodo.

Upsus Siwab merupakan gerakan nasional sebagai kelanjutan dari kegiatan tahun sebelumnya guna lebih mendorong pertumbuhan sapi dan kerbau yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting.

"Upsus Siwab akan memaksimalkan potensi sapi indukan di dalam negeri untuk dapat terus menghasilkan pedet (anak sapi) dalam rangka menambah populasi ternak nasional," kata mentan.

Indonesia memiliki populasi sapi perah sebanyak 518.649 ekor pada tahun 2015, dengan jumlah produksi sebesar 835.100 ton (Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2016). Total kebutuhan untuk konsumsi susu sapi nasional pada tahun 2015 sebesar 3.838.215 ton per tahun atau 15 liter per kapita per tahun.

Produksi lokal berupa susu segar baru mencapai 22 persen dari kebutuhan, dan kekurangannya 78 persen masih harus dipenuhi dari impor yakni 3.003.115 ton dalam bentuk produk olahan susu.

Beberapa penyebab dari kondisi ini diantaranya harga susu segar di tingkat peternak yang relatif rendah dan kesejahteraan peternak belum baik menjadi sesuatu hal yang kurang diminati peternak untuk menjalankan usaha sapi perah, konsumsi susu segar yang masih rendah.

Juga tingkat produktivitas ternak perah yang rendah, manajemen kelembagaan kelompok yang belum efektif dan efisien, belum ada investasi untuk penyediaan bibit ternak perah, serta pertumbuhan populasi sapi perah yang cenderung menurun sejak tahun 2011 karena banyak dipotong untuk memenuhi kebutuhan daging sapi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternakan sapi, inseminasi buatan, andi amran sulaiman

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top