Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sektor Migas dan Otomotif Dinilai Paling Butuh Pusat Logistik Berikat

Pelaku usaha menilai untuk menekan krisis ekonomi saat ini pemerintah perlu memperbanyak pusat logistik berikat khususnya pada sektor pertambangan, minyak, gas, dan otomotif. n
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 30 Oktober 2016  |  14:19 WIB
Petugas keamanan berjaga di salah satu Pusat Logistik Berikat (PLB) di Indonesia di Kawasan Industri Krida Bahari, Cakung, Jakarta Utara, Kamis (10/3/2016). - Antara/Widodo S. Jusuf
Petugas keamanan berjaga di salah satu Pusat Logistik Berikat (PLB) di Indonesia di Kawasan Industri Krida Bahari, Cakung, Jakarta Utara, Kamis (10/3/2016). - Antara/Widodo S. Jusuf

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha menilai untuk menekan krisis ekonomi saat ini pemerintah perlu memperbanyak pusat logistik berikat khususnya pada sektor pertambangan, minyak, gas, dan otomotif. 

Ketua Perhimpunan Pusat Logistik Berikat Indonesia (PPLBI) Ety Puspitasari menyatakan sektor pertambangan, minyak dan gas, serta otomotif sangat urgen memiliki pusat logistik berikat (PLB) guna menstabilisasi harga dan stok. 

“Mengingat tekanan krisis ekonomi saat ini serta persaingan antar negara di ASEAN untuk menekan biaya produksi menjadi sangat penting,” kata Ety kepada Bisnis.com, Kamis (27/10). 

Dia menyebut segala usaha saat ini membutuhkan PLB untuk menekan biaya produksi misalnya; industri tekstil, industri perkapalan, industri infrastruktur, industri kimia dan farmasi.

Alasannya, PLB diyakini bisa membantu efisiensi antara 20% sampai 30%. Efisiensi ini termasuk penekanan nilai inventory di sisi importir. Nilai ini didapatkan dari penghematan yang disebabkan dari kecepatan proses di pelabuhan. 

“Ini mengurangi biaya storage dan biaya demurrage dari perusahaan, mengurangi biaya penyimpanan,” terangnya. 

Ety optimistis efisiensi ini akan memperbaiki proses PLB pada 2017. Menurutnya, para pengusaha PLB dan stakeholder terkait akan merasakan dampak dari percepatan proses clearance di pelabuhan. 

PLB atau gudang raksasa adalah salah satu program dalam Paket Kebijakan Ekonomi II yang tertuang dalam beleid Peraturan Pemerintah No. 85/2015 memiliki fasilitas yang memudahkan pelaku usaha, misalnya; penangguhan bea masuk dan pajak dalam rangka impor (PDRI), serta beberapa fasilitas operasional lainnya. 

Banyaknya peminat PLB terbukti dengan ketertarikan dari salah satu badan usaha milik negara (BUMN) sektor logistik, PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) untuk ikut terjun membuka bisnis PLB. Hal itu diungkapkan oleh Nofrisel, Direktur Operasional PT Bhanda Ghara Reksa (BGR). 

Dia menyatakan BGR tengah merencanakan pembangunan model bisnis baru yaitu PLB. Menurut Nofrisel prospek bisnis PLB yang nampak positif mendorong perusahaan pelat merah itu untuk melakukan ekspansi tahun depan. 

Selain BGR, perusahaan penyedia fasilitas PLB juga hendak melakukan ekspansi ke seluruh Indonesia pada 2017 mendatang. Sebut saja misalnya PT Cipta Krida Bahari yang akan membuka PLB di Sorong, Papua dan Surabaya, Jawa Timur. 

Selain CKB, ada pula PT Penajam Banua Taka atau Eastkal Supply Base, anak usaha PT Astratel Nusantara yang menargetkan pembukaan satu pusat logistik berikat antara dua lokasi yaitu Jawa atau Sumatra guna menunjang bisnis minyak dan gas, atau sektor bisnis lain yang dikelola Astra. Pembangunan PLB tersebut selambat-lambatnya dimulai pada 2017. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pusat logistik berikat
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top