Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lembaga Riset: Jumlah Benih Palsu Sawit Cukup Banyak

Lembaga Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menyebut saat ini kebun kelapa sawit yang tidak menggunakan bibit yang benar atau bibit palsu terbilang cukup banyak. Hal tersebut menyebabkan produktivitas tanaman sawit dapat menyentuh 1 ton CPO per hektarLembaga Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menyebut saat ini kebun kelapa sawit yang tidak menggunakan bibit yang benar atau bibit palsu terbilang cukup banyak. Hal tersebut menyebabkan produktivitas tanaman sawit dapat menyentuh 1 ton CPO per hektare per tahun.e per tahun.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 21 Juli 2016  |  23:30 WIB
Lembaga Riset: Jumlah Benih Palsu Sawit Cukup Banyak
Buah kelapa sawit - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menyebut saat ini kebun kelapa sawit yang tidak menggunakan bibit yang benar atau bibit palsu terbilang cukup banyak. Hal tersebut menyebabkan produktivitas tanaman sawit dapat menyentuh 1 ton CPO per hektare per tahun.

Direktur Riset dan Pengembangan RPN, Gede Wibawa mengatakan potensi produktivitas tanaman sawit dapat mencapai 8 ton per hektare per tahun. Dia menyebut peredaran benih palsu terutama terjadi di kalangan petani kecil yang tidak memiliki akses pengetahuan soal benih sawit yang baik.

“Kalau benihnya itu rusak, produktivitas CPO-nya itu bisa 3-3,5 ton per hektare per tahun. Daerah yang krusial penyebaran benih palsu misalnya Jambi dan Pekanbaru. Benih yang illegitimate di perkebunan sawit rakyat bisa mencapai 12%-15% dari total perkebunan sawit rakyat,” kata Gede di Jakarta, Kamis (21/7).

Sebagai catatan, dari sekitar 10,3 juta hektare tanaman sawit saat ini, perusahaan swasta menguasai 50% luasan, perkebunan sawit rakyat yaitu 43%, sedangkan sisanya merupakan perkebunan milik BUMN atau PTPN.

Gede mamaparkan ada beberapa faktor yang menyebabkan petani mengakses bibit yang produktivitasnya rendah, seperti ketidaktahuan petani, mengingat bibit palsu sulit dibedakan dengan bibit resmi yang telah berstandar nasional.

Menurutnya, bibit palsu yaitu apa yang diterangkan di labelnya tidak sesuai dengan kenyataannya. Dia menyebut petani pun kerap menggunakan bibit dari salah satu induknya. Padahal, benih terbaik adalah yang telah melalui proses penyilangan atau crossing yang disebut benih hibrida.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sawit
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top