Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dihantam Produk China, IKM Komponen Otomotif Minta Proteksi

Koperasi Pengusaha Industri Kecil Suku Cadang Mesin (Kopisma) Jawa Barat mendesak pemerintah segera menerbitkan kebijakan dan insentif untuk penguatan industri kecil dan menengah (IKM) di sektor komponen otomotif lokal guna meningkatkan kapasitas produksi.
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 14 Juli 2016  |  14:25 WIB

Bisnis.com, BANDUNG - Koperasi Pengusaha Industri Kecil Suku Cadang Mesin (Kopisma) Jawa Barat mendesak pemerintah segera menerbitkan kebijakan dan insentif untuk penguatan industri kecil dan menengah (IKM) di sektor komponen otomotif lokal guna meningkatkan kapasitas produksi.

Penasihat Kopisma Jabar K. Fuzy Agus mengatakan sejak diberlakukannya ACFTA 2012 lalu IKM komponen otomotif terus tertekan seiring maraknya produk impor ke pasar dalam negeri.

Di sisi lain, pemberlakuan pasar bebas juga tidak diimbangi dengan penguatan kapasitas produksi dalam negeri, salah satunya dengan pemberian insentif.

"Sejak 2013 belum ada aturan untuk memperkuat keberadaan IKM komponen otomotif lokal. Saat ini, jumlah pelaku usaha terus berkurang," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (14/7/2016).

Dia menjelaskan pelaku usaha yang masih bertahan mayoritas memilih menjadi penjual komponen otomotif impor, karena tidak mengeluarkan biaya terlalu tinggi dibandingkan memproduksi komponen.

Sebelumnya pelaku usaha di Jabar banyak memproduksi komponen otomotif seperti karet, suku cadang mesin, dan lainnya untuk mobil dan sepeda motor.

"Untuk menggairahkan kembali produksi, harus ada suatu kebijakan pemerintah yang mendukung itu," ujarnya.

Fuzy mengungkapkan, harga bahan baku yang saat ini relatif rendah semestinya mendorong pemerintah untuk menerbitkan kebijakan dan insentif yang dapat menghidupkan kembali aktivitas IKM komponen otomotif.

"Sudah saatnya pemerintah memfasilitasi program nasional di sektor komponen otomotif yang bisa menghidupkan IKM. Jumlah sepeda motor dan mobil makin banyak, harusnya IKM komponen otomotif bisa hidup dan berkembang," tegasnya.

Dia merujuk pada industri otomotif Jepang yang lebih banyak diuntungkan dengan menguasai pasar di Indonesia, serta mereka mengajak IKM setempat untuk memasok komponen otomotif bagi ATPM.

"Kami sulit melangkah. Teman-teman tidak hanya diversifikasi produk, tapi banting usaha seperti bisnis kuliner yang gampang duitnya," katanya.

Selain itu, suku cadang after market asal beberapa negara Asean seperti Thailand pun mulai menyerbu pasar Tanah Air, yang harganya relatif rendah dibandingkan dengan produk lokal. "Konsumen pun beralih ke suku cadang yang harganya lebih murah."

Dia menambahan, tingginya harga komponen lokal karena masih mengandalkan peralatan konvensional. Sedangkan di Jepang dan Thailand IKM komponen mendapat subsidi dari pemerintah untuk pembelian bahan baku dan bantuan mesin yang mampu memproduksi dalam jumlah sangat banyak.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar Dedy Widjaja menyatakan IKM komponen otomotif lokal memang sudah saatnya diberi insentif.

Menurutnya, produk lokal diyakini mampu berdaya saing dengan impor karena pelaku usaha di Jabar sebagian besar kreatif.

"Jabar itu pusatnya industri kreatif, pasti produksi lebih baik dibandingkan dengan yang impor," katanya.

Insentif tersebut bisa berupa peralatan permesinan berteknologi canggih, karena sebagian besar pelaku usaha masih menggunakan alat konvensional dalam memproduksi komponen.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan produk komponen lokal sulit berdaya saing terhadap produk impor.

Di samping itu, pemerintah perlu memetakan kembali IKM komponen otomotif dengan sistem klaster, agar aktivitas produksi bisa langsung dibina serta diawasi.

"ATPM pun bakal langsung bisa mencari keberadaan pelaku usaha yang nantinya bisa dikerjasamakan," ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komponen otomotif
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top