Bisnis.com, JAKARTA - Indeks manufaktur China menunjukkan perbaikan untuk pertama kalinya dalam delapan bulan.
Hal ini mengisyaratkan keberhasilan kebijakan fiskal dan moneter pemerintah.
Index manufaktur China naik menjadi 50,2 di Maret 2016, sementara estimasi rata-rata menurut survey ekonom Bloomberg News mencapai 49,4. Hasil index tersebut adalah yang tertinggi sejak November 2014.
Sementara itu, Indeks non-manufaktur naik ke 53,8 dari 52,7 pada Februari 2016 dengan penguatan pada mata uang komoditas dan tembaga.
Bulan lalu, Kongres Nasional China meluncurkan data defisit fiskal dan menjanjikan percepatan restrukturisasi industri milik negara demi memenuhi target mereka sebesar 6,5%-7% tahun ini.
Otoritas moneter telah membuka lebih banyak ruang untuk bertindak jika pertumbuhan terputus.
"Ada kekhawatiran akan hard landing di awal tahun ini, tapi setelah Kongres Rakyat Nasional bertindak, muncul harapan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan pertumbuhan tergelincir di bawah batas bawah sebesar 6,5%," kata Ding Shuang, kepala ekonom China di Standard Chartered Plc sebagaimana dikutip Bloomberg (1/4/2016). "Kebijakan moneter akan tetap mempermudah, membantu kepercayaan bisnis."
Volatilitas musiman adalah salah satu faktor di balik perbaikan tersebut, menurut sebuah pernyataan NBS, saat manufaktur kembali berproduksi setelah liburan tahun baru Imlek pada bulan Februari.
"Beberapa tanda-tanda positif muncul," kata ahli statistik NBA dalam pernyataannya. "Pada saat yang sama, masih ada kesulitan yang cukup besar dalam bisnis."