Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

e-Ticketing Merak-Bakaheuni Tak Akurat, Operator Angkutan Berpotensi Rugi Rp23,68 Miliar

E-ticketing yang akan diberlakukan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) berpotensi merugikan operator angkutan penyeberangan hingga Rp23,68 miliar per bulannya untuk lintasan Merak-Bakaheuni akibat uji sensor kendaraan tidak akurat.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 08 November 2015  |  19:43 WIB
e-Ticketing Merak-Bakaheuni Tak Akurat, Operator Angkutan Berpotensi Rugi Rp23,68 Miliar
Ilustrasi: Antrean truk yang akan masuk ke kapal feri di Dermaga IV Pelabuhan Merak, Banten, Jumat (3/7). - Asep Fathulrahman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—E-ticketing yang akan diberlakukan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) berpotensi merugikan operator angkutan penyeberangan hingga Rp23,68 miliar per bulannya untuk lintasan Merak-Bakaheuni akibat uji sensor kendaraan tidak akurat.

Sjarifudin Malarangan, Ketua Umum, Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) mengatakan hasil uji coba e-ticketing di lintasan Merak-Bakaheuni menunjukan tingkat keakuratan sensor dalam mengenali dimensi panjang dan jenis kendaraan masih rendah.

“Terbukti saat uji coba, print out tiket untuk kendaraan Golongan VII [truk tronton] keluar menjadi golonngan VI [truk besar],” ungkapnya, Minggu (8/11/2015).

Tidak hanya itu, sensor juga gagal mendeteksi kendaraan golongan VI sehingga pada print out kendaraan jenis golongan ini tertulis sebagai golongan V.

Jika hal ini terus terjadi, Sjarifudin memaparkan potensi kerugiannya mencapai Rp23,68 miliar per bulan bila dalam satu hari rerata kapal beroperasi sebanyak 25 unit kapal.

Perhitungan ini didapatkan dari rata-rata kapal per trip yang mengangkut kendaraan golongan VII dan VI sebanyak 35 unit dalam sehari.

Tidak hanya kerugian dari sistem sensor, Gapasdap menilai potensi kerugian akan terjadi lagi apabila durasi proses pelayanan per unit mencapai 2-4 menit.

Menurut Sjarifudin, hal ini akan mengakibatkan keterlambatan proses pemuatan kendaraan ke dalam kapal sehingga kapal lebih lama sandar.

“Akhirnya, jumlah pencapaian trip per hari berkurang,” tegasnya.

Selain itu, masih beroperasinya kapal LCTdi lintasan Bakaheuni – Bojonegara yang berimpitan dengan lintasan Merak-Bakaheuni berpotensi merugikan angkutan penyeberangan di lintasan ini yang  menggunakan tarif sesuai PM 63 Tahun 2015.

Perlu diketahui, PT ASDP Indonesia Ferry telah melakukan uji coba tiket elektronik di lintasan Merak-Bakaheuni pada 15 Oktober 2015. Simulasi e-ticketing atau tiket elektronik ini dilakukan oleh PT Mata Pensil Globalindo.

Dalam resume uji coba,  provider yang ditunjuk ini mengirimkan surat  kepada GM ASDP Indonesia Ferry cabang  Bakaheuni dan DPC Gapasdap Merak pada akhir Oktober lalu.

Pada dasarnya, lanjut Sjarifudin, Gapasdap sangat memahami, menghargai dan mendukung rencana pemberlakuan tiket elektronik pada November 2016 tersebut karena sangat bermanfaat.

Namun, akibat potensi kerugian di atas, Gapasdap mengusulkan untuk menunda sementara waktu implementasi  tiket elektronik ini hingga kekurangan dalam uji coba dapat diselesaikan dengan maksimal.

“Kami mengusulkan agar ASDP dan pihak terkait melakukan perbaikan sebagaimana mestinya atas kekurangan dalam uji coba sebelum memberlakukan e-ticketing agar operator angkutan penyeberangan di lintasan Merak-Bakaheuni tidak dirugikan,” ungkap Ketua Umum Gapasdap.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-ticketing asdp pelabuhan merak
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top