Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cadangan Devisa Menurun Pada September,Ini Penjelasan Bank Indonesia

Ketidakseimbangan antara permintaan dolar dengan jumlah ketersediaan dolar yang ada di pasar lah, lanjutnya, yang membuat Bank Sentral harus ikut masuk dan melakukan intervensi dalam rangka menstabilkan kurs rupiah.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 08 Oktober 2015  |  09:55 WIB
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (tengah) berbincang dengan Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) dan Deputi Gubernur Ronald Waas (kanan) usai Rapat Dewan Gubernur di Gedung Bank Indonesia - Antara
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (tengah) berbincang dengan Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) dan Deputi Gubernur Ronald Waas (kanan) usai Rapat Dewan Gubernur di Gedung Bank Indonesia - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2015 senilai US$101,7 miliar.

Cadangan devisa tersebut mengalami penurunan yang cukup besar yakni US$3,6 miliar dari posisi cadangan devisa akhir Agustus 2015 senilai US$105,3 miliar.

Otoritas moneter mengungkapkan penurunan cadangan devisa terjadi disebabkan intervensi sebagai upaya untuk menstabilisasi nilai tukar rupiah.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan permintaan dolar AS pada bulan September mengalami peningkatan karena ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve atau Fed Fund Rate (FFR).

Pada bulan September, lanjutnya,The Fed mengadakan rapat penting yakni Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menentukan tingkat suku bunga acuan. Rapat itulah yang membuat kekhawatiran pasar sehingga menekan nilai tukar rupiah.

"September itu memang ekspektasi orang dipasar cukup banyak tentang kenaikan Rate Federal Reverse, jadi memang pembelian atau permintaan dolar cukup besar di bulan September," ujarnya di Gedung DPR, Rabu (7/10/2015) malam.

Permintaan dolar yang meningkat ini juga disebabkan oleh para importir yang memborong dolar AS dalam jumlah yang sangat besar pada bulan September. Padahal, kebutuhan akan dolar AS ini baru digunakan dalam beberapa bulan mendatang.

"Para importir juga membeli dolar lebih awal yang padahal kebutuhan mereka masih dua bulan lagi," kata Mirza.

Ditambah lagi, kebutuhan dolar AS untuk membayar utang valuta asing mengalami peningkatan seiring kewajiban perusahaan membayar utang valas setiap akhir kuartal.

Mirza menuturkan kekhawatiran para pelaku pasar terhadap FOMC menyebabkan peningkatan permintaan dolar AS dalam jumlah yang cukup besar dan berbanding terbalik dengan jumlah pasokan dolar AS yang ada di pasar.

"Importir membeli lebih awal yang kebutuhannya baru dua bulan lagi cukup besar, pembayaran utang valas meningkat setiap akhir kuartal. Mereka khawatir FOMC. Jadi demandnya besar tapi supply yang mau dikonversi menjadi rupiah itu juga dari eksportir ya tetep kecil hanya sekitar 10% sampai dengan 12% total ekspor yang dikonversi rupiah," terangnya.

Ketidakseimbangan antara jumlah permintaan dan ketersediaan dolar yang ada di pasar lah, lanjutnya, yang membuat Bank Sentral harus ikut masuk dan melakukan intervensi dalam rangka menstabilkan kurs rupiah.

Bank Indonesia, tambahnya, pada bulan September itu juga melakukan stabilisasi di pasar surat berharga negara atau SBN.

"Jadi ya Bank Indonesia harus masuk untuk stabilisasi karena tugasnya Bank Indonesia ya stabilisasi. September juga BI masuk stabilisasi pasar SBN Cadev kalau turun jumlah yang cukup besar ya dipakai stabilisasi. Demi stabilitas negeri ini," tutur Mirza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia cadangan devisa cadev
Editor : Gita Arwana Cakti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top